Sabtu, 10 Mei 2014

Finally Sulawesi ...


Finally Sulawesi.

image

Citra Landsat Google Map.

01-April-2014, Bandara Juanda

Enggak kebayang kalau misalkan tadi kami ketinggalan pesawat, mungkin ceritanya bakal lain. Pada akhirnya sekitar pukul 18.10 WIB pesawat kami Takeoff, “Makassar, Iam Coming” Tereak gue di toilet pesawat.

Yang bisa gue lakuin sepanjang perjalanan adalah baca majalah yang disedian maskapai, karena semua alat elektronik dari mulai televisi, radio, HP, semua harus dimatiin. Oh iya, ini pengalaman gue pertama kali terbang naik pesawat, rasanya itu ya biasa aja, sama kayak gue naik kereta, naik Ferry, naik Bus, cuma yang ngebedain disini ada Pramugari cantik yang siap melayani anda.

Terletak pada koordinat Lat : 05*08’34” S, Long : 119*23’57”, kota Makassar merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Dengan letak geografis berbatasan dengan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah Timur, dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan.

Makassar tidak lepas dari unsur budaya dan wisata kuliner. Makassar sendiri mempunyai suku lokal yang disebut Suku Makassar, sedangkan suku yang signifikan di kota Makassar sendiri diantaranya suku Bugis, Mandar, Toraja, Buton, Jawa, dan Tionghoa. Kuliner yang khas Makassar sendiri diantaranya Cotto Makassar, Konro, Sop Saudara, Palubasah, Pisang ijo, Pisang Epe, Kue Tori, Palubutung.

Selama perjalanan gue cuma memandangi gelapnya malam diluar jendela, coba kalau kami berangkatnya siang, mungkin birunya laut jawa bakal terpampang nyata didepan mata, Selat Makassar yang terkenal bisa kami liat, dan yang jelas foto sayap pesawat bisa gue ambil tanpa harus menggunakan Flash.

Satu setengah jampun berlalu cepat, akhirnya pesawat mulai bersiap buat landing, sabuk pengamanpun gue pake lagi buat keselamatan, kursi yang tadinya miring kebelakang kini harus kembali tegap.

Setelah turun dari pesawat hal yang gue lakuin pertama kali adalah ngambil uang di Atm, terus gue langsung ngehubungin teman yang tadi siang udah sms terus-terusan nanyain kapan kami tiba. Eria ngambil carirnya, sedangkan gue keluar bandara buat nyari temen gue yang barusan telfon kalau kami sudah ditunggu.

Senangnya hati udah sampe di tanah Sulawesi, harapan gue dari awal semoga terwujud, list tempat yang siap kami kunjungi semoga terlaksana, Sulawesi kota Daeng, gue siap menjelajah sepuluh hari kedepan.




Kamis, 08 Mei 2014

Ketinggalan Pesawat ...


Ketinggalan Pesawat

Mencoba bersantai ditengah kepanikan yang melanda, mungkin ini kesalahan, tapi kami mencoba berfikir positif dan berharap semoga pesawat yang akan kami naiki belum berangkat.

Sidoarjo, 01-04-2014 16.45 WIB

”Eria udah dimana tong?” tanya gua sama Rentong.

”Katanya Eria udah di Bandara”, kata Rentong jawab santei.

”Jarak dari sini ke Bandara berapa lama mas?” tanya gue ke supir taksi.

”Wah, sekitar 1 jam mas, belum lagi kalau macet”, saut supir taxi.

”Mampuse, gimana ini … Pesawat kita kan jam 18.00 WIB, terus boarding pass kita kan di Eria” gue sedikit panik.

“Aduh mas, kenapa gak berangkat dari jam 4 sore tadi?”, tanya supir taxi.

“Tadi kami kira jarak dari rumah temen ke bandara deket mas, jadi kami santei-santei aja”, jawab Rentong menegaskan.

“Yaudah mas, saya bakal coba ngebut supaya masnya gak telat”, kata supir taxi yang bentar lagi berubah jadi SuperMan.

Mobil pun di gas sampe kecepatan 120 Km/jam, gak kebayang kalau misalkan kami ber-4 harus ketinggalan pesawat cuma karena santei-santei, gak jadi berangkat dan harus beli tiket lagi. Dalem hati yang bisa gue lakuin cuma berdo’a dan sedikit panik tentunnya.

Bener aja, sekarang udah jam 17.10 WIB, dan kita baru setengah perjalanan. Semua orang panik, dan Eria juga ikut panik. Waktu berjalan begitu cepat, tanda peringatan yang ada di dalam mobil pun berbunyi, menandakan kecepatan melebihi batas maksimal.

Untung aja, supir taxi ini bener-bener bukan pembalap gadungan, semua mobil dia salib tanpa merduliin peringatan dari kantornya sendiri. Kalau kata dia “Kepuasan pelanggan adalah segalanya”.

“Wuasiii … macet total”, didhut ikutan panik.

“Raf, Eria nelfon lagi ni, katanya harus burur-buru dateng, soalnya udah mulai check in”, kata Rentong.

“Yaudah berdo’a aja semoga sampe tepat waktu” Gua coba tenang padahal panik banget.

Setelah berubah jadi Ghost Rider, supir taxi meyakinkan bahwa kita bakal dateng tepat waktu. Setelah sampai dan membayar serta tak lupa mengucapkan terimakasih sama bapak taxi, kami bergegas berlari macem “Running Man”, cuma sialnya gak ada yang ngedokumentasiin momen langka ini.

Semua orang di Bandara menatap tajam sama kita, kepanikan yang melanda, ditambah keringat yang bercucuran udah jadi satu kombinasi yang saling terikat. Seolah-olah kita lagi maen game Realityshow di televisi swasta.

Ayo-ayo, kalian harus cepet masuk ke pesawat, udah dipanggil dari setengah jam yang lalu”, saut seorang ibu-ibu berkerudung dan 2 orang Remaja didepannya.

Ini tiket kalian, cepet masuk …. Lari cepet”, kata remaja cantik yang sambil tersenyum ngasih tiket dan ngasih semangat, sayangnya kami belum sempat berpelukan.

Dalam hati gue, “Siapa mereka?”, jangan-jangan ini emang lagi Realityshow dan kameranya tersembunyi. Yang penting adalah gimana caranya harus cepet masuk ke pesawat, check in segera dan menghentikan operator yang dari tadi memanggil nama kami.

Kepada saudara Renda Faizal, Rafli Riandi, Muhammad Irfa Udin, Samdhya Paramatathya Karmmanya, harap segera masuk karena pesawat akan Take Off sebentar lagi” kata operator yang mungkin sedikit jengkel.

Yang jelas kami udah gak ngerti agi itu operator ngomong apa, setelah check in secepat kilat, kami masih ditodong dengan pajak bandara yang biasa disebut Airportax. Gue gak ngerti kenapa udah bayar mahal buat tiket harus bayar lagi buat pajak, apalah ini. Mau gak mau uang di kantong segera dirogoh dari dompet masing-masing, setelah bayar perjuangan kami belum berakhir.

Berlarian kayak orang dikejar Terminator, sambil bawa tas carir yang mungkin sekitar 15 kg, tapi apalah arti beratnya beban kalau kami gak jadi berangkat ke Makassar.

Alhamdulillah bis masih setia menunggu kami, dengan muka supir yang cemberut kami berusaha mengatur nafas yang dari tadi enggak karuan. Di dalam sanapun ternyata masih ada Eria yang masih setia menunggu, dan pada akhirnya kami kena omel Eria.

Ada satu pertanyaan yang masih gue simpen selama kami lari ?, siapa ibu-ibu dan 2 remaja yang memberikan tiket kami tadi ?, dan pertanyaan itu gue tanyakan ke Eria yang lagi duduk tersipu dengan muka cemberut super kecut.

Makasih ya tante Lie, kalau gak ada Tante mungkin semuanya berantakan” Eria menjawab telfon yang baru saja diangkat.

Lah kok dia bilang tante Lie, ternyata yang tadi memberikan tiket itu tante Lie dan kedua anaknya. Rasa bersalah timbul dalam hati gue, tadi kami belum sempat ngucapin terimakasih, yang kami lakuin cuma lari kepanikan. Dari hal kecil aja menyebabin gue belum sempet kenalan sama anak gadisnya #Sudahlah.

Akhirnya kamipun masuk ke dalam pesawat, kami baru sadar, bagasi yang sudah kami bayar itu sia-sia, tas carir yang dari kemarin kami timbang pake kiloan itu gak ada gunanya, berharap beban tidak melebihi kapasitas sebesar 15Kg cuma perhitungan matematika semata.

Tas carir itupun kami masukan ke dalam kabin pesawat, para Pramugari yang harusnya ramah menjadi sedikit menyebalkan, wajar saja kami adalah orang yang ditunggu tunggu dari tadi, dan mereka harus menerima kenyataan kalau tas sege ini semena-mena masuk dalem kabin. Tapi yasudahlah, yang penting gue bisa menghela nafas panjang dan sedikit lega, menerima kenyataan bahwa sore ini kami mengalami hal yang cukup spektakuler dalam hidup, dan menerima fakta bahwa perjalanan menuju Makassar akan segera dimulai.

Yuhu ….”





12 Hours Before Take Off "Surabaya-Makassar"


12 Hours Before Take Off “Surabaya-Makassar” …


Di rumah Gondel … c.Samdhya Paramatathia Karmmanya

Boarding pass kami menunjukkan waktu keberangkatan pesawat pukul 18.10 WIB dan sampai di Makassar pukul 08.20 WITA.

Akhirnya travel membawa gue keluar dari bencana ini, baju yang penuh keringet dan bau badan membuat badan udah gak betah dengan kondisi yang ada. “Mandi … gue butuh mandii …” sorak tereak badan gue yang tiba-tiba bisa ngomong. Perjalanan menuju rumah Osa sekitar 1 jam dari Stasiun Pasar Turi. AC mobil cukup membuat bau yang ada sedikit menghilang, membuat badan sedikit segar, membuat keringat berubah menjadi kristal es.

Sesampainya di rumah Osa yang kami lakuin pertama adalah salaman kayak lebaran, abis itu naro barang, dan selanjutnya rebutan kamar mandi supaya bisa segera bersih-bersih badan. Baju yang gue pake seharian selama perjalanan kemarin gue masukin kedalam plastik supaya baunya gak bertebaran.

Akhirnya badan gue merasa bersyukur karena udah bisa kebasuh sama air hangat kamar mandi Osa, otot-otot yang tegang dan mengeras menjadi lemas, sendi-sendi yang kaku menjadi kian elastis, dan pikiran yang kotor kini kembali bersih. Badan emang udah bersih, tapi perut keroncongan karna belum makan dari malem. Baru keluar dari kamar mandi akhirnya do’a terkabul, rezeki perut emang selalu ada, kayak rezeki anak yang baru lahir udah di tulis di Laumul Mahfudz.

Nasi bakar yang dibeli sama Osa kian menambah selera, sebenernya bukan karena rasa lapar yang udah melanda, tapi karena makanan kali ini adalah Gratis … intinya "Free is better than anything, when you travel with minim budget", ini salah satu kelebihan dari silaturahmi, gratisan bukan hal yang tabu macam cinta gue yang gak karuan.

Setelah istirahat beberapa lama, akhirnya kami memutuskan buat pamit dari rumah ini buat berkunjung ke teman kami yang lain, sayangnya trek menjadi dua arah gara-gara tragedi tadi pagi.

Surabaya, 01-April-2014 pukul 06.00 WIB.

Jadi, siang ini kita bisa stay dimana?” tanya gue ke Eria.

"Ke temen nyokap gue yang ada di Surabaya aja gimana? tapi gue hubungin dulu … coba lu bbm Osa, katanya dia masih di rumah, tapi dia balik Semarang jam 09.30 WIB," Kata Eria sambil coba ngasih secerca harapan.

"Yaudah, gue coba ngehubungin Mba Osa", kata Rentong yang nyoba ngehubungin.

Semuanya nampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing, gue sama rentong coba nge-bbm mba Osa, Eria coba ngehubungin Tante Lie temen mamanya, Didhut yang lagi ngobrol sama Pak Travel, dan MIU yang masih terlelap tidur dikursi empuknya.

Akhirnya Osa ngebales bbm dan ngasih kabar gembira buat kita bisa tinggal sementara di Rumahnya, karena jam setengah 10 semua orang dirumahnya pergi, kecuali bibi yang selalu setia menjaga Rumah.

"Abis dari Osa kita kemana?" Gue nanya lagi.

"Eh, tante Lie katanya bisa buat nampung kita dan siap nganter ke Bandara sore nanti." Kata Eria dengan wajah sumbringah.

"Gue barusan ngehubungin gondel, katanya maen aja ke rumahnya tapi dia gereja dulu sampe jam 11an baru di Rumah, terus udah gue iya-in kita kesana". Rentong dengan referensi baru buat tempat kami tinggal sampe sore sebelum take off.

Berawal dari ketidakpastian, berakhir dengan banyak keputusan, inilah hidup selalu banyak pilihan. Semuanya udah kita janjiin buat silaturahmi, baik Tante Lie maupun Gondel “Panggilan sayang buat kawan kami bernama Agatha Armadhea”.

Keputusan yang berat, dua janji, satu pilihan. Akhirnya gue berempat ke Rumah Gondel, Eria dengan tas ranselnya ke tempat Tante Lie. 2 Blue Bird ”nama taxi” akhirnya dipesan dan meluncur dari sangkarnya.

Pada awalnya gue ngira tempat Tante Lie itu lebih jauh daripada Rumahnya Dhea, ternyata asumsi itu patah, karena Eria cukup ngeluarin budget Rp. 30.000 sendirian, sedangkan kami berempat harus ngeluarin budget Rp.100.000 /4orang. Artinya lokasi Dhea lebih jauh daripada lokasi Tante Lie, inilah pilihan yang udah gue pilih, semuanya penuh kejutan.

Kerjaan gue di rumah Dhea adalah makan, tidur, nonton Smack Down, dengerin adeknya Dhea nyanyi, ngabisin makanan yang ada di meja tamu. Rumah Dhea berada di Siduarjo, begitu menyengat dan panas tapi semuanya sirnah dengan es teh manis yang dikasih sama bibi di Rumah dhea.

Waktu menujukkan pukul 16.30 WIB artinya kami ber-4 harus segera pamit dan berangkat ke bandara Juanda, Surabaya.

Hujan yang turun saat itu seolah membuat suasana lebih sendu, membaca akan perpisahan yang akan segera terjadi. Apa daya kita harus berangkat segera, kalau enggak bisa-bisa ketinggalan pesawat. Kalau ketinggalan artinya …… “Liburan Gagal ….” , plan yang dua minggu direncanain sia-sia, makanan gratis yang kami makan bakal terasa hambar, tapi tenang … semua masih asumsi.



Kereta Ke Surabaya ...


Kereta ke Surabaya …

KA KERTAJAYA …

Segala macem barang buat 10 hari kedepan udah gue masukin ke dalem tas carir, dari mulai baju, celana, kancut, foto mantan, kenangan sama gebetan, dan tak lupa sikat gigi. Fisik dan mental gue udah siap buat perjalanan ini, siap buat ngadepin arek-arek Surabaya, ikutan demo di Makassar, Belanja diskonan sama ibu-ibu di Mall, Balapan sama kuda di Bulukumba.

Kami berangkat dari stasiun Tawang, Semarang sekitar pukul 10.00 WIB. Tiket kereta yang udah di beli didhut 5 hari yang lalu membawa kita ke Surabaya naik Kerta Jaya. Kereta kelas Ekonomi AC ini lumayan padat, punuh sesak, banyak orang yang udah terkapar pulas dengan kaki selonjoran seolah-olah kursi itu punya bapaknya. Dan ternyata di kursi tempat kami dudukpun demikian, ada mas-mas dengan pulasnya tidur dengan posisi yang super enak, kaki ngangkang, mulut kebuka, entah lagi mimpi apa dia sekarang, yang jelas kami harus duduk.

“Mas, bangun mas udah sampe Semarang” kata gue ngebangunin mas-mas yang lagi tidur.

“Kenapa mas? saya kan turun di Surabaya”, kata dia setengah sadar.

“Mas, bangun … ini tempat kami mas !”, kata gue sambil ngebanting carir ke badannya.

”Maaf mas maaf, saya pindah kok”, kata dia sambil bawa koper balik ke mamaknya.

Akhirnya kami bisa duduk dengan tenang sekarang, menikmati kursi tegap hampir 90 derajat dengan AC yang beralih fungsi jadi penghangat ruangan, karena numpuknya orang-orang disini. Gue, Didhut, Eria, dan Rentong duduk dalam dua kursi yang saling berhadapan, sedangkan MIU dia duduk jauh dibelakang kursi kami, apa daya gak ada yang bisa kami lakuin selain ngusir MIU dari peradaban ini.

Akhirnya bunyi khas dari keretaapi pun berbunyi … “Teng nong neng neng, teng nong neng neng 2x" suara itu mirip suara jam dinding rumah tua nenek gue, yang biasanya berbunyi jam 12 malem tepat dan membuat bulukuduk merinding #mitos. Kereta api Kerta Jaya tujuan Surabaya Pasar Turi akan segera diberangkatkan, para penumpang segera naik ke dalam kereta” Suara masinis terdengar seperti suara yang jual tahu pake toa.

Semarang-Surabaya ditempuh sekitar 5 jam, "What must we do for kill the times ?", sebenernya gue bete kalau kayak gini ceritanya, duduk tegap tanpa bicara sedikitpun. Akhirnya UNO sang pemecah kebeteanpun keluar dari kantong kecil tasnya rentong, semuanya antusias buat maen ini kartu sambil ngemil enak. Lantas gimana kabar MIU ? … MIU aman terkendali, dia mutusin buat selonjoran di lantai deket sama pintu gerbong, entah apa yang ada di otak dia sampe bangku yang udah dia bayar direlain buat orang lain selonjoran.

Gak ada pemandangan yang bisa gue lihat dari jendela, semuanya begitu gelap. Kartu UNOpun kami mainkan dengan peraturan yang kalah harus dikasih “Fresh(s)care” minyak angin dengan gambar Agnes Monica ini berubah menjadi menakutkan, karena peraturan yang kami buat hanyalah menyiksa diri sendiri. Yang kalah dioles minyak angin ini di bagian atas mulutnya, “Semoga gua menang …” saut do’a gua dalam hati supaya enggak kena Minyak angin menakutkan.

Beberapa ronde udah berlalu, dan yang jadi korban cuma Eria dan Rentong, sedangkan Didhut sama gue cuma ngeliat mereka nahan panasnya siksaan yang dikasih sama minyak angin itu. Kemana MIU?, akhirnya setelah beberapa saat dia ikutan gabung sama kami buat maen UNO dan ikutan ngabisin cemilan dari dalem kantong kreseknya Eria.

Semua orang nampak sudah tertidur pulas, yang kedengeran cuma suara berisik kita yang lagi asik maen kartu dan dengkuran dari penumpang lain yang nampaknya kelelahan. Setelah puas maen kartu beberapa jam, rasa kantuk mulai menerpa kami, permainan yang tadinya asik berubah jadi remang-remang, akhirnya pertarunganpun dihentikan.

Posisi tidur kami atur dengan beberapa variasi, dari mulai kaki saling nyilang, sampe kepala saling nyender, sedangkan MIU asik dengan dunianya sendiri, dia akhirnya menemukan tempat yang pas buat hibernasi. Penumpang di kursi C1 sudah turun distasiun sebelumnya, tempat itu akhirnya dipake MIU buat tidur lelap tanpa dosa memejamkan mata dengan badannya yang menuhin satu kursi panjang itu.

“Selamat datang kepada penumpang kereta Kerta Jaya di Stasiun Pasar Turi - Surabaya, terimakasih telah menggunakan layanan transportasi kereta PT PJKAI”, suara merdu operator itu menandakan bahwa kini gue udah sampe di Kota Pahlawan, Surabaya. Waktu masih menunjukkan jam 03.15 WIB, itu artinya matahari masih tidur dan mata gue juga minta jatah tidur tambahan. K21 jadi tempat kami singgah, menunggu travel yang kami pesan hari kemaren, yang akan menjemput kami untuk mengantar menuju kediaman Osa.

Kursi menjadi Surga saat kasur tiada, dengkuran itu mencerminkan betapa kerasnya badan bekerja duduk di kursi tegap keretaapi Kerta Jaya. Tapi sudahlah, nikmati dan syukuri “gumaman gue dalam hati”.




Rabu, 07 Mei 2014

The First Flight ...



The First Flight …



"Perjalanan panjang kali ini memaksa gue untuk bertindak mainstream".

Kondisi rumah yang berada di pertengahan Bandung-Jakarta, memaksa gue balik dari Semarang selalu menggunakan kereta, perjalanan jauh harus gue tempuh selama 6 jam, duduk tegap dengan kelas Ekonomi, sedikit santei dengan kelas Bisnis, dan Relax dengan kelas Eksekutif. Setiap sebelum memulai perjalanan gue selalu berdo’a, semoga disamping gue ada cewek cantik, sholehah, cerdas yang bisa nemenin perjalanan panjang itu, minta no hp, pin bb, social media, terus ngelamar, terus gue nikahin.

Kereta yang selalu ngerti gue disaat kangen sama tempat terindah dimana gue dilahirin, dimana gue bisa makan gratis, dimana gue dulu kalau boker dicebokin, tempat yang selalu ngertiin gue disaat putus sama pacar, disaat gua ngumpet waktu maen petak umpet sama temen-temen, iniliah tempat terindah yang gue panggil rumah.

Rumah gue berada di tempat yang strategis, selalu masuk Televisi disaat bulan Ramadhan. Bukan tanpa alasan kalau Cikampek selalu masuk layar televisi dan koran-koran lokal, cuma karena lokasinya yang jadi persimpangan, ngehubungin tiga titik jalan, Barat ke Jakarta, Selatan ke Bandung, dan Utara ke Cirebon yang ngebikin setiap harinya macet total. Apalagi di musim arus, arus mudik dan arus balik di Bulan Ramadhan, jalanan udah macem sorum mobil dengan debunya masing-masing.

Cikampek, yang membuat gue gak bisa balik cepet 1 atau 2 jam naik pesawat, andaikan gue flight Semarang-Bandung, gue harus nyari angkot dari bandara ke Leuwi Panjang, naik Bis Patas ke Cikopo, terus naik angkot ke Rumah, berapa kocek yang harus gue keluarin cuma buat ngeliat amang-amang angkot nyetir. Kalau gue flight Semarang-Jakarta, ini sama aja kayak gue naik kereta, terbang 1 jam, balik ke Cikampeknya 3 jam +macet 2 jam = 5 jam. Pokoknya zona ini yang ngebuat gue nyaman buat stay dan gak bisa Move On dari transportasi yang namanya Kereta.

Kenapa harus kereta dan gak naik Bis ? karena bis udah ngelukain hati gue disaat Idul Adha, gara-gara bis gue gak Shalat Idul Adha dan gue malah nonton film Warkop yang bintangnya mengundang syahwat dan mata gue melotot, bis yang ngebuat gue kebablasan dan diturunin di Jalan Tol, bis yang maksa gue kencing di Toilet yang sebenernya tempat nyimpen barang dan gue dimarahin sama semua penumpang tanpa terkecuali istrinya supir, bis yang ngebuat gue gak kenal sama cewek cantik karena isinya bapak-bapak dan ibu-ibu. Pokoknya untuk saat ini pilihan gue tepat buat jadiin kereta tempat ternyaman buat gue nyenderin kepala, ngelepas kerinduan, dan jadi saksi bisu kalau gue masih jomblo sampe sekarang.

Terlepas dari semua itu, perjalanan kali ini memaksa gue berubah status dari Relationship jadi Compiclated sama yang namanya Kereta. Trip kali ini ngenalin gue sama temen baru yang orang sering sebut Pesawat. Nama yang udah gak asing di dunia Transportasi, nama yang bikin gua benci menerima kenyataan hidup “Kenapa di Karawang gak ada Bandara?” … Akhirnya kondisi ini ngerubah pandangan gue sama pesawat, yang awalnya gue kira kalau pesawat itu angkuh, pesawat itu egois, pesawat itu gak pernah ngasih gue duit kalau gue teriak ke langit pas dia lewat, dia begitu acuh karena gak pernah mampir ke rumah gue. Akhirnya dia mengatakan sejujurnya, karena ternyata dia sebenernya baik dan bukan gak mau berkunjung ke rumah gue karena acuh, tapi karena dia bingung harus parkir dimana, yakali dia Landing di depan jalan rumah gue, bisa-bisa jadi fenomena baru ngalahin fenomena arus mudik pas Ramadhan.

Kenyataannya, Pesawat itu ngemudahin semuanya, bisa bikin semua orang bahagia karena bisa nempuh jarak jauh dengan waktu yang singkat, karena bikin gue senyum-senyum sendiri kalau liat Pramugari lewat “young is good”, bisa bikin gue diem karena samping gue ada wanita cantik lagi tidur dengan anggunnya, semua terasa nyaman. Dan yang jelas pesawat udah ngerubah do’a gua sebelum naik kereta, yang awalnya gue berharap ketemu cewek cantik disamping kursi duduk sebelah gue, sekarang jadi gue berharap senggolan sama cewek cantik yang lagi bawa buku banyak, terus kita nunduk kebawah buat ngambil buku yang jatuh, dan mata kita saling bertatapan, terus kenalan, terus … semuanya adalah do’a atau cuma harapan, tapi kadang kisah hidup gak seindah Film AADC, Rangga yang pamitan sama cinta di Bandara dan ditutup dengan ciuman manis mereka berdua #lupakan.

Tujuan perjalanan gue kali ini adalah Makassar, Sulawesi Selatan. Segala macem persiapan udah gua tulis di buku kecil, dari mulai tempat Wisata Kuliner, sampei tempat epic yang bakal kami kunjungin. Tentunya gue gak akan berangkat sendirian, dan perjalanan kali ini gue ditemenin sama empat sahabat gue, Eria, Didhut, Rentong, dan MIU, melewati perjalanan menyenangkan, mengkhawatirkan, dan tentunya penuh kejutan, dari mulai tikung-tikungan dan akhirnya ada yang jadian.








Selasa, 18 Februari 2014

BEBAS !!!



Kebebasan Part 1 …

Dalam riak aku termenung, berjalan tiada henti yang kucari, angin yang menghembus seolah menampar wajahku, air yang turun seolah memercikan api, hampa … kosong … namun seharusnya apa yang kulihat adalah nyata bukanlah fana.

Aku adalah kebebasan, yang mempertanyakan banyak aspek yang ada dalam hidup. Aku hanyalah pikiran dan hati yang kosong, entah harus kuisi dengan apa, entah harus kututup atau kubuka. Apakah belalang itu akan terus menggerogoti jiwa hingga ranum. Seraya mengorbitkan bintang ke langit, ku pandanginya dengan penuh kesunyian, hanya detak jarum jam dinding yang terdengar “tik, tak, tik, tak” di sepanjang malamku

Hari demi hari hanyalah gelap yang kulihat bukanlah keindahan, apakah ini fatamorgana, atau ini semua hanya kiasan. Siapa sebenarnya aku? padahal jiwa ini selalu merasa bebas, tapi aku selalu merasa ada yang hilang dalam kelam. Rasa takut itu kini kian menghantui, padahal biasanya aku terus berteriak diatas kabut yang menerpa menyapa. Suaraku kian menggema … lantas hilang entah kemana.

Kemudian, suara jangkrik yang kudengar seolah seperti srigala yang mengaum, apa itu? apa yang sedang terjadi? mengapa semakin hari aku semakin takut? Kehampaan bisa membuatku gila, aku hanya ingin bebas, aku .. hanya … ingin … bebas … karena aku adalah kebebasan.

Percuma namaku kebebasan karena yang ada hanyalah rantai yang terikat di sekujur beluk urat nadi tubuhku, semua saling mengikat tanpa bisa dijelaskan dengan logika. Kemudian, aku kembali berjalan sambil bersiul, namun yang ada hanyalah kegelapan yang saling berteru, semua tampak aneh, apa yang kulihat kini hanya kabur. Suara siulanku perlahan kini senyap.

Lalu, aku bertanya pada diriku … dari mana aku berasal? apakah aku berjasad ataukah hanya sebuah rasa? Dimana seharusnya aku berada? Apa arti bumi untukku? Jasad, Jiwa dan Ruh yang ada? Siapa mereka yang selalu menyapaku siang dan malam? Pertanyaan yang membuatku kebingungan karena aku adalah kebebasan.

Suatu hari aku kembali berjalan, sambil mendengarkan bunyi lonceng yang ada disekolahan itu, suaranya sangatlah nyaring, namun perlahan semuanya hilang entah kemana. Kerisauan yang kurasakan, kini menjadi bumerang untuk hati yang tadinya kosong, untuk jiwa dan otak yang merasa bebas. Kini aku mulai memperhatikan, tidak bertindak semaunya, mulai berfikir dengan apa yang sedang terjadi …

Satu persatu jawaban itu bermunculan selepas perjalanan panjangku, oksigen yang kuhirup menyadarkanku akan sebuah zat yang sungguh sangat bermanfaat untuk bernafas, air yang berjatuhan kebumi kini bisa kurasakan rasa dan aromanya, kekosongan itu kini mulai terisi secara perlahan, rasa bebas yang terikat kini sedikit terlepas dan membuatku tak merasa pengap, namun tetap saja aku tidak merasakan apa itu kebebasan ? …

Aku merasa hebat saat teori yang kubaca terlihat seperti fakta, aku merasa bangga apa yang kulakukan kini berbuah pujian … aku merasa tidak ada yang bisa menghalangi kemauanku untuk merasa bebas, aku merasa tidak ada yang bisa menghentikanku memakan ambisiku, perasaan sombong itu kuanggap sebagai hal yang baik, namun ternyata semuanya hilang seketika karena hal itu hanya tipu daya yang menyesatkan. Apa yang sebenarnya terjadi, aku kembali masuk kedalam lubang yang sama bahkan ini jauh lebih dalam, jauh lebih gelap, jauh dari bintang yang pernah kulihat, padangan kosong kembali menghantuiku.

Coba sekarang, pejamkan mata kalian, itu sama halnya dengan kondisiku saat itu, sekelilingku menjadi gelap seketika, sekelilingku menjadi sunyi jauh dari kebebasan, bahkan mungkin rutan terkejampun jauh lebih baik dari pada perasaan ini. Perasaan apa ini ? perasaan yang mempertanyakan segala macam pertanyaan, pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh teori yang pernah kubaca, pertanyaan yang benar-benar merobek naruni, pertanyaan yang benar-benar menguras hati dan pikiranku.

Kulihat wujud diri dalam cermin, kulihat diriku dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya begitu indah, semuanya begitu detail, dan penuh perhitungan, siapa yang membuat ini semua? bahkan tidak pernah ada seorang ilmuanpun yang dapat menciptakan sesuatu diluar batasnya, aku mulai kebingungan dan tak mengerti … apa ini?, apa ini ? …

Sembari semuanya terjadi, aku mendapat tamparan keras dalam hidupku, kebebasan itu kini membungkam semuanya, aku seperti melawan diriku sendiri, melawan rasa bebas, melawan rasa amarah yang menjadi cerminanku, siapakah dia? siapa yang menyamaiku, bahkan persis sekali denganku, aku tak percaya dia penuh dengan rasa benci dan amarah, apakah itu yang aku lakukan selama ini ? akupun kebingungan dan mebuat semuanya seolah tidak pernah terjadi …

Hinar binar dirinya kini menjadi-jadi, ada kekuatan besar yang menyerangku dan aku tak kuasa untuk melawannya, aku begitu lemah, karena aku tak pernah mau belajar dari banyak kesalahanku. Kini tak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya diam dan terus dipukulinya, dicacimaki, dan diseru dengan amarah yang luar biasa.

Suatu ketika disaat aku tak mampu lagi menahan semuanya, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang menolongku, disaat rasa pasrah ada dalam diriku, disaat rasa amarah sudah bisa kuredam, disaat rasa ikhlas dan sabar mensingkronkan logika dan daya khayal, disaat semuanya terpusat kepada satu pikiran, aku mempunyai Tuhan. Ia yang punya kuasa atas segalaNya, ia yang mempunyai kuasa atas jiwa, raga, hati dan pikiran. Ia yang membuat diri ini begitu sempurna, membuat semua yang kulihat begitu nyata.

Aku baru tersadar ternyata rasa bebas yang kurasa hanyalah semu belaka, kini cerminan yang aku lihat sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, emosi yang mudah diredam seketika, berucap dengan tutur kata yang baik, dan batasan-batasan yang tak boleh kularang kini kupatuhi, dan aku kini melaksanakan kewajiban yang memang seharusnya kulakukan yaitu Beribadah kepadaNya. Pada akhirnya jiwa yang kosong kini terisi, rantai yang mengikat nadi telah hancur menjadi abu, rasa bebas yang sesungguhnya kini telah hadir. Kini aku percaya bahwa maksud dari kebebasan bukanlah bebas segalanya, terdapat aturan yang mengikat, terdapat benang merah yang tak dapat kulanggar, namun kini aku merasa sangat nyaman dengan semua apa yang dimaksud kebebasan.

Dalam hidup, ada hal yang diluar batas, akan muncul satu titik nyata yang dinamakan “pasrah”, setiap orang mungkin akan melawan cerminannya masing-masing, dengan cara yang berbeda mengatasi masalah yang ada, rasa pasrah itu akan mengenalkan raga pada nurani, mengetahui siapa diri, dan semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta, arti kebebasan sesungguhnya.


Senin, 17 Februari 2014

Camping Ground, Gonoharjo, Kendal, Jawa Tengah ...


Camping Ground, Gonoharjo, Kendal, Jawa Tengah

"Mensyukuri segala apa yang ada, menjaga apa yang sudah di anugerahkan Sang Pencipta, Karena alam dan manusia akan terus berdampingan hingga waktu itu tiba-Risalah alam dan manusia"

image

Dibawah rimbun pohon cemara …

Berlokasi di bawah kaki gunung Ungaran bertempat di Desa Gonoharjo, Kendal-Jawa Tengah terdapat keindahan tersembunyi yang benar-benar menyejukkan hati. Hijaunya pohon, jernihnya air mengalir, dan sejuknya udara adalah kenikmatan yang nyata. Banyak hal yang dapat kita lakukan di tempat wisata ini, diantaranya menikmati indahnya alam pegunungan, hangatnya pemandingan air panas, bermalam dengan bercamping ria, mendengar bercik air terjun yang dengan derasnya mengalir, semua itu sudah tersedia di alamNya.

image

Area Camping Ground …

image

Area Camping Ground …

image

Area Camping Ground …

Selain menyediakan tempat luas untuk lokasi berkemah, di lokasi wisata ini banyak sekali air terjun yang dapat kita jumpai, namun hal itu tidak mudah kita dapatkan karena lokasi air terjun yang cukup jauh dari lokasi Camping Ground. Berjarak sekitar 7 km kalian akan menemukan banyak sekali air mengalir dari hulu ke hilir, selain itu di lokasi ini juga terdapat banyak sumber air panas.

image

Salah satu sungai …

image

Airnya jernih brur …

image

Airnya lumayan deres …

image

Salah satu sumber air panas …

image

Air terjun mini …

image

Keren deh brur …

image

Curug Lawe …

image

Airnya deres banget …


image

Batunya gede-gede brur …

image

Air mengalir …

image

Mini Air terjun …

image

Airnya deres, hati - hati …

image

Batunya mantep dah…


image

Cuci Sepatu …

image

Tangga menuju tempat pemandian air panas …

Pada postingan ini saya hanya menyajikan foto-foto saja, bahwa wisata alam yang terdapat di Desa Gonoharjo, Kendal, Jawa Tengah adalah lokasi wisata alam yang benar-benar kumplit dan reccomended buat dikunjungi. Selamat bertualang kawan-kawan Traveler, jangan lupa berkunjung ya ke Gonoharjo. See U Next Trip.