Kamis, 08 Mei 2014

12 Hours Before Take Off "Surabaya-Makassar"


12 Hours Before Take Off “Surabaya-Makassar” …


Di rumah Gondel … c.Samdhya Paramatathia Karmmanya

Boarding pass kami menunjukkan waktu keberangkatan pesawat pukul 18.10 WIB dan sampai di Makassar pukul 08.20 WITA.

Akhirnya travel membawa gue keluar dari bencana ini, baju yang penuh keringet dan bau badan membuat badan udah gak betah dengan kondisi yang ada. “Mandi … gue butuh mandii …” sorak tereak badan gue yang tiba-tiba bisa ngomong. Perjalanan menuju rumah Osa sekitar 1 jam dari Stasiun Pasar Turi. AC mobil cukup membuat bau yang ada sedikit menghilang, membuat badan sedikit segar, membuat keringat berubah menjadi kristal es.

Sesampainya di rumah Osa yang kami lakuin pertama adalah salaman kayak lebaran, abis itu naro barang, dan selanjutnya rebutan kamar mandi supaya bisa segera bersih-bersih badan. Baju yang gue pake seharian selama perjalanan kemarin gue masukin kedalam plastik supaya baunya gak bertebaran.

Akhirnya badan gue merasa bersyukur karena udah bisa kebasuh sama air hangat kamar mandi Osa, otot-otot yang tegang dan mengeras menjadi lemas, sendi-sendi yang kaku menjadi kian elastis, dan pikiran yang kotor kini kembali bersih. Badan emang udah bersih, tapi perut keroncongan karna belum makan dari malem. Baru keluar dari kamar mandi akhirnya do’a terkabul, rezeki perut emang selalu ada, kayak rezeki anak yang baru lahir udah di tulis di Laumul Mahfudz.

Nasi bakar yang dibeli sama Osa kian menambah selera, sebenernya bukan karena rasa lapar yang udah melanda, tapi karena makanan kali ini adalah Gratis … intinya "Free is better than anything, when you travel with minim budget", ini salah satu kelebihan dari silaturahmi, gratisan bukan hal yang tabu macam cinta gue yang gak karuan.

Setelah istirahat beberapa lama, akhirnya kami memutuskan buat pamit dari rumah ini buat berkunjung ke teman kami yang lain, sayangnya trek menjadi dua arah gara-gara tragedi tadi pagi.

Surabaya, 01-April-2014 pukul 06.00 WIB.

Jadi, siang ini kita bisa stay dimana?” tanya gue ke Eria.

"Ke temen nyokap gue yang ada di Surabaya aja gimana? tapi gue hubungin dulu … coba lu bbm Osa, katanya dia masih di rumah, tapi dia balik Semarang jam 09.30 WIB," Kata Eria sambil coba ngasih secerca harapan.

"Yaudah, gue coba ngehubungin Mba Osa", kata Rentong yang nyoba ngehubungin.

Semuanya nampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing, gue sama rentong coba nge-bbm mba Osa, Eria coba ngehubungin Tante Lie temen mamanya, Didhut yang lagi ngobrol sama Pak Travel, dan MIU yang masih terlelap tidur dikursi empuknya.

Akhirnya Osa ngebales bbm dan ngasih kabar gembira buat kita bisa tinggal sementara di Rumahnya, karena jam setengah 10 semua orang dirumahnya pergi, kecuali bibi yang selalu setia menjaga Rumah.

"Abis dari Osa kita kemana?" Gue nanya lagi.

"Eh, tante Lie katanya bisa buat nampung kita dan siap nganter ke Bandara sore nanti." Kata Eria dengan wajah sumbringah.

"Gue barusan ngehubungin gondel, katanya maen aja ke rumahnya tapi dia gereja dulu sampe jam 11an baru di Rumah, terus udah gue iya-in kita kesana". Rentong dengan referensi baru buat tempat kami tinggal sampe sore sebelum take off.

Berawal dari ketidakpastian, berakhir dengan banyak keputusan, inilah hidup selalu banyak pilihan. Semuanya udah kita janjiin buat silaturahmi, baik Tante Lie maupun Gondel “Panggilan sayang buat kawan kami bernama Agatha Armadhea”.

Keputusan yang berat, dua janji, satu pilihan. Akhirnya gue berempat ke Rumah Gondel, Eria dengan tas ranselnya ke tempat Tante Lie. 2 Blue Bird ”nama taxi” akhirnya dipesan dan meluncur dari sangkarnya.

Pada awalnya gue ngira tempat Tante Lie itu lebih jauh daripada Rumahnya Dhea, ternyata asumsi itu patah, karena Eria cukup ngeluarin budget Rp. 30.000 sendirian, sedangkan kami berempat harus ngeluarin budget Rp.100.000 /4orang. Artinya lokasi Dhea lebih jauh daripada lokasi Tante Lie, inilah pilihan yang udah gue pilih, semuanya penuh kejutan.

Kerjaan gue di rumah Dhea adalah makan, tidur, nonton Smack Down, dengerin adeknya Dhea nyanyi, ngabisin makanan yang ada di meja tamu. Rumah Dhea berada di Siduarjo, begitu menyengat dan panas tapi semuanya sirnah dengan es teh manis yang dikasih sama bibi di Rumah dhea.

Waktu menujukkan pukul 16.30 WIB artinya kami ber-4 harus segera pamit dan berangkat ke bandara Juanda, Surabaya.

Hujan yang turun saat itu seolah membuat suasana lebih sendu, membaca akan perpisahan yang akan segera terjadi. Apa daya kita harus berangkat segera, kalau enggak bisa-bisa ketinggalan pesawat. Kalau ketinggalan artinya …… “Liburan Gagal ….” , plan yang dua minggu direncanain sia-sia, makanan gratis yang kami makan bakal terasa hambar, tapi tenang … semua masih asumsi.



Kereta Ke Surabaya ...


Kereta ke Surabaya …

KA KERTAJAYA …

Segala macem barang buat 10 hari kedepan udah gue masukin ke dalem tas carir, dari mulai baju, celana, kancut, foto mantan, kenangan sama gebetan, dan tak lupa sikat gigi. Fisik dan mental gue udah siap buat perjalanan ini, siap buat ngadepin arek-arek Surabaya, ikutan demo di Makassar, Belanja diskonan sama ibu-ibu di Mall, Balapan sama kuda di Bulukumba.

Kami berangkat dari stasiun Tawang, Semarang sekitar pukul 10.00 WIB. Tiket kereta yang udah di beli didhut 5 hari yang lalu membawa kita ke Surabaya naik Kerta Jaya. Kereta kelas Ekonomi AC ini lumayan padat, punuh sesak, banyak orang yang udah terkapar pulas dengan kaki selonjoran seolah-olah kursi itu punya bapaknya. Dan ternyata di kursi tempat kami dudukpun demikian, ada mas-mas dengan pulasnya tidur dengan posisi yang super enak, kaki ngangkang, mulut kebuka, entah lagi mimpi apa dia sekarang, yang jelas kami harus duduk.

“Mas, bangun mas udah sampe Semarang” kata gue ngebangunin mas-mas yang lagi tidur.

“Kenapa mas? saya kan turun di Surabaya”, kata dia setengah sadar.

“Mas, bangun … ini tempat kami mas !”, kata gue sambil ngebanting carir ke badannya.

”Maaf mas maaf, saya pindah kok”, kata dia sambil bawa koper balik ke mamaknya.

Akhirnya kami bisa duduk dengan tenang sekarang, menikmati kursi tegap hampir 90 derajat dengan AC yang beralih fungsi jadi penghangat ruangan, karena numpuknya orang-orang disini. Gue, Didhut, Eria, dan Rentong duduk dalam dua kursi yang saling berhadapan, sedangkan MIU dia duduk jauh dibelakang kursi kami, apa daya gak ada yang bisa kami lakuin selain ngusir MIU dari peradaban ini.

Akhirnya bunyi khas dari keretaapi pun berbunyi … “Teng nong neng neng, teng nong neng neng 2x" suara itu mirip suara jam dinding rumah tua nenek gue, yang biasanya berbunyi jam 12 malem tepat dan membuat bulukuduk merinding #mitos. Kereta api Kerta Jaya tujuan Surabaya Pasar Turi akan segera diberangkatkan, para penumpang segera naik ke dalam kereta” Suara masinis terdengar seperti suara yang jual tahu pake toa.

Semarang-Surabaya ditempuh sekitar 5 jam, "What must we do for kill the times ?", sebenernya gue bete kalau kayak gini ceritanya, duduk tegap tanpa bicara sedikitpun. Akhirnya UNO sang pemecah kebeteanpun keluar dari kantong kecil tasnya rentong, semuanya antusias buat maen ini kartu sambil ngemil enak. Lantas gimana kabar MIU ? … MIU aman terkendali, dia mutusin buat selonjoran di lantai deket sama pintu gerbong, entah apa yang ada di otak dia sampe bangku yang udah dia bayar direlain buat orang lain selonjoran.

Gak ada pemandangan yang bisa gue lihat dari jendela, semuanya begitu gelap. Kartu UNOpun kami mainkan dengan peraturan yang kalah harus dikasih “Fresh(s)care” minyak angin dengan gambar Agnes Monica ini berubah menjadi menakutkan, karena peraturan yang kami buat hanyalah menyiksa diri sendiri. Yang kalah dioles minyak angin ini di bagian atas mulutnya, “Semoga gua menang …” saut do’a gua dalam hati supaya enggak kena Minyak angin menakutkan.

Beberapa ronde udah berlalu, dan yang jadi korban cuma Eria dan Rentong, sedangkan Didhut sama gue cuma ngeliat mereka nahan panasnya siksaan yang dikasih sama minyak angin itu. Kemana MIU?, akhirnya setelah beberapa saat dia ikutan gabung sama kami buat maen UNO dan ikutan ngabisin cemilan dari dalem kantong kreseknya Eria.

Semua orang nampak sudah tertidur pulas, yang kedengeran cuma suara berisik kita yang lagi asik maen kartu dan dengkuran dari penumpang lain yang nampaknya kelelahan. Setelah puas maen kartu beberapa jam, rasa kantuk mulai menerpa kami, permainan yang tadinya asik berubah jadi remang-remang, akhirnya pertarunganpun dihentikan.

Posisi tidur kami atur dengan beberapa variasi, dari mulai kaki saling nyilang, sampe kepala saling nyender, sedangkan MIU asik dengan dunianya sendiri, dia akhirnya menemukan tempat yang pas buat hibernasi. Penumpang di kursi C1 sudah turun distasiun sebelumnya, tempat itu akhirnya dipake MIU buat tidur lelap tanpa dosa memejamkan mata dengan badannya yang menuhin satu kursi panjang itu.

“Selamat datang kepada penumpang kereta Kerta Jaya di Stasiun Pasar Turi - Surabaya, terimakasih telah menggunakan layanan transportasi kereta PT PJKAI”, suara merdu operator itu menandakan bahwa kini gue udah sampe di Kota Pahlawan, Surabaya. Waktu masih menunjukkan jam 03.15 WIB, itu artinya matahari masih tidur dan mata gue juga minta jatah tidur tambahan. K21 jadi tempat kami singgah, menunggu travel yang kami pesan hari kemaren, yang akan menjemput kami untuk mengantar menuju kediaman Osa.

Kursi menjadi Surga saat kasur tiada, dengkuran itu mencerminkan betapa kerasnya badan bekerja duduk di kursi tegap keretaapi Kerta Jaya. Tapi sudahlah, nikmati dan syukuri “gumaman gue dalam hati”.




Rabu, 07 Mei 2014

The First Flight ...



The First Flight …



"Perjalanan panjang kali ini memaksa gue untuk bertindak mainstream".

Kondisi rumah yang berada di pertengahan Bandung-Jakarta, memaksa gue balik dari Semarang selalu menggunakan kereta, perjalanan jauh harus gue tempuh selama 6 jam, duduk tegap dengan kelas Ekonomi, sedikit santei dengan kelas Bisnis, dan Relax dengan kelas Eksekutif. Setiap sebelum memulai perjalanan gue selalu berdo’a, semoga disamping gue ada cewek cantik, sholehah, cerdas yang bisa nemenin perjalanan panjang itu, minta no hp, pin bb, social media, terus ngelamar, terus gue nikahin.

Kereta yang selalu ngerti gue disaat kangen sama tempat terindah dimana gue dilahirin, dimana gue bisa makan gratis, dimana gue dulu kalau boker dicebokin, tempat yang selalu ngertiin gue disaat putus sama pacar, disaat gua ngumpet waktu maen petak umpet sama temen-temen, iniliah tempat terindah yang gue panggil rumah.

Rumah gue berada di tempat yang strategis, selalu masuk Televisi disaat bulan Ramadhan. Bukan tanpa alasan kalau Cikampek selalu masuk layar televisi dan koran-koran lokal, cuma karena lokasinya yang jadi persimpangan, ngehubungin tiga titik jalan, Barat ke Jakarta, Selatan ke Bandung, dan Utara ke Cirebon yang ngebikin setiap harinya macet total. Apalagi di musim arus, arus mudik dan arus balik di Bulan Ramadhan, jalanan udah macem sorum mobil dengan debunya masing-masing.

Cikampek, yang membuat gue gak bisa balik cepet 1 atau 2 jam naik pesawat, andaikan gue flight Semarang-Bandung, gue harus nyari angkot dari bandara ke Leuwi Panjang, naik Bis Patas ke Cikopo, terus naik angkot ke Rumah, berapa kocek yang harus gue keluarin cuma buat ngeliat amang-amang angkot nyetir. Kalau gue flight Semarang-Jakarta, ini sama aja kayak gue naik kereta, terbang 1 jam, balik ke Cikampeknya 3 jam +macet 2 jam = 5 jam. Pokoknya zona ini yang ngebuat gue nyaman buat stay dan gak bisa Move On dari transportasi yang namanya Kereta.

Kenapa harus kereta dan gak naik Bis ? karena bis udah ngelukain hati gue disaat Idul Adha, gara-gara bis gue gak Shalat Idul Adha dan gue malah nonton film Warkop yang bintangnya mengundang syahwat dan mata gue melotot, bis yang ngebuat gue kebablasan dan diturunin di Jalan Tol, bis yang maksa gue kencing di Toilet yang sebenernya tempat nyimpen barang dan gue dimarahin sama semua penumpang tanpa terkecuali istrinya supir, bis yang ngebuat gue gak kenal sama cewek cantik karena isinya bapak-bapak dan ibu-ibu. Pokoknya untuk saat ini pilihan gue tepat buat jadiin kereta tempat ternyaman buat gue nyenderin kepala, ngelepas kerinduan, dan jadi saksi bisu kalau gue masih jomblo sampe sekarang.

Terlepas dari semua itu, perjalanan kali ini memaksa gue berubah status dari Relationship jadi Compiclated sama yang namanya Kereta. Trip kali ini ngenalin gue sama temen baru yang orang sering sebut Pesawat. Nama yang udah gak asing di dunia Transportasi, nama yang bikin gua benci menerima kenyataan hidup “Kenapa di Karawang gak ada Bandara?” … Akhirnya kondisi ini ngerubah pandangan gue sama pesawat, yang awalnya gue kira kalau pesawat itu angkuh, pesawat itu egois, pesawat itu gak pernah ngasih gue duit kalau gue teriak ke langit pas dia lewat, dia begitu acuh karena gak pernah mampir ke rumah gue. Akhirnya dia mengatakan sejujurnya, karena ternyata dia sebenernya baik dan bukan gak mau berkunjung ke rumah gue karena acuh, tapi karena dia bingung harus parkir dimana, yakali dia Landing di depan jalan rumah gue, bisa-bisa jadi fenomena baru ngalahin fenomena arus mudik pas Ramadhan.

Kenyataannya, Pesawat itu ngemudahin semuanya, bisa bikin semua orang bahagia karena bisa nempuh jarak jauh dengan waktu yang singkat, karena bikin gue senyum-senyum sendiri kalau liat Pramugari lewat “young is good”, bisa bikin gue diem karena samping gue ada wanita cantik lagi tidur dengan anggunnya, semua terasa nyaman. Dan yang jelas pesawat udah ngerubah do’a gua sebelum naik kereta, yang awalnya gue berharap ketemu cewek cantik disamping kursi duduk sebelah gue, sekarang jadi gue berharap senggolan sama cewek cantik yang lagi bawa buku banyak, terus kita nunduk kebawah buat ngambil buku yang jatuh, dan mata kita saling bertatapan, terus kenalan, terus … semuanya adalah do’a atau cuma harapan, tapi kadang kisah hidup gak seindah Film AADC, Rangga yang pamitan sama cinta di Bandara dan ditutup dengan ciuman manis mereka berdua #lupakan.

Tujuan perjalanan gue kali ini adalah Makassar, Sulawesi Selatan. Segala macem persiapan udah gua tulis di buku kecil, dari mulai tempat Wisata Kuliner, sampei tempat epic yang bakal kami kunjungin. Tentunya gue gak akan berangkat sendirian, dan perjalanan kali ini gue ditemenin sama empat sahabat gue, Eria, Didhut, Rentong, dan MIU, melewati perjalanan menyenangkan, mengkhawatirkan, dan tentunya penuh kejutan, dari mulai tikung-tikungan dan akhirnya ada yang jadian.








Selasa, 18 Februari 2014

BEBAS !!!



Kebebasan Part 1 …

Dalam riak aku termenung, berjalan tiada henti yang kucari, angin yang menghembus seolah menampar wajahku, air yang turun seolah memercikan api, hampa … kosong … namun seharusnya apa yang kulihat adalah nyata bukanlah fana.

Aku adalah kebebasan, yang mempertanyakan banyak aspek yang ada dalam hidup. Aku hanyalah pikiran dan hati yang kosong, entah harus kuisi dengan apa, entah harus kututup atau kubuka. Apakah belalang itu akan terus menggerogoti jiwa hingga ranum. Seraya mengorbitkan bintang ke langit, ku pandanginya dengan penuh kesunyian, hanya detak jarum jam dinding yang terdengar “tik, tak, tik, tak” di sepanjang malamku

Hari demi hari hanyalah gelap yang kulihat bukanlah keindahan, apakah ini fatamorgana, atau ini semua hanya kiasan. Siapa sebenarnya aku? padahal jiwa ini selalu merasa bebas, tapi aku selalu merasa ada yang hilang dalam kelam. Rasa takut itu kini kian menghantui, padahal biasanya aku terus berteriak diatas kabut yang menerpa menyapa. Suaraku kian menggema … lantas hilang entah kemana.

Kemudian, suara jangkrik yang kudengar seolah seperti srigala yang mengaum, apa itu? apa yang sedang terjadi? mengapa semakin hari aku semakin takut? Kehampaan bisa membuatku gila, aku hanya ingin bebas, aku .. hanya … ingin … bebas … karena aku adalah kebebasan.

Percuma namaku kebebasan karena yang ada hanyalah rantai yang terikat di sekujur beluk urat nadi tubuhku, semua saling mengikat tanpa bisa dijelaskan dengan logika. Kemudian, aku kembali berjalan sambil bersiul, namun yang ada hanyalah kegelapan yang saling berteru, semua tampak aneh, apa yang kulihat kini hanya kabur. Suara siulanku perlahan kini senyap.

Lalu, aku bertanya pada diriku … dari mana aku berasal? apakah aku berjasad ataukah hanya sebuah rasa? Dimana seharusnya aku berada? Apa arti bumi untukku? Jasad, Jiwa dan Ruh yang ada? Siapa mereka yang selalu menyapaku siang dan malam? Pertanyaan yang membuatku kebingungan karena aku adalah kebebasan.

Suatu hari aku kembali berjalan, sambil mendengarkan bunyi lonceng yang ada disekolahan itu, suaranya sangatlah nyaring, namun perlahan semuanya hilang entah kemana. Kerisauan yang kurasakan, kini menjadi bumerang untuk hati yang tadinya kosong, untuk jiwa dan otak yang merasa bebas. Kini aku mulai memperhatikan, tidak bertindak semaunya, mulai berfikir dengan apa yang sedang terjadi …

Satu persatu jawaban itu bermunculan selepas perjalanan panjangku, oksigen yang kuhirup menyadarkanku akan sebuah zat yang sungguh sangat bermanfaat untuk bernafas, air yang berjatuhan kebumi kini bisa kurasakan rasa dan aromanya, kekosongan itu kini mulai terisi secara perlahan, rasa bebas yang terikat kini sedikit terlepas dan membuatku tak merasa pengap, namun tetap saja aku tidak merasakan apa itu kebebasan ? …

Aku merasa hebat saat teori yang kubaca terlihat seperti fakta, aku merasa bangga apa yang kulakukan kini berbuah pujian … aku merasa tidak ada yang bisa menghalangi kemauanku untuk merasa bebas, aku merasa tidak ada yang bisa menghentikanku memakan ambisiku, perasaan sombong itu kuanggap sebagai hal yang baik, namun ternyata semuanya hilang seketika karena hal itu hanya tipu daya yang menyesatkan. Apa yang sebenarnya terjadi, aku kembali masuk kedalam lubang yang sama bahkan ini jauh lebih dalam, jauh lebih gelap, jauh dari bintang yang pernah kulihat, padangan kosong kembali menghantuiku.

Coba sekarang, pejamkan mata kalian, itu sama halnya dengan kondisiku saat itu, sekelilingku menjadi gelap seketika, sekelilingku menjadi sunyi jauh dari kebebasan, bahkan mungkin rutan terkejampun jauh lebih baik dari pada perasaan ini. Perasaan apa ini ? perasaan yang mempertanyakan segala macam pertanyaan, pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh teori yang pernah kubaca, pertanyaan yang benar-benar merobek naruni, pertanyaan yang benar-benar menguras hati dan pikiranku.

Kulihat wujud diri dalam cermin, kulihat diriku dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya begitu indah, semuanya begitu detail, dan penuh perhitungan, siapa yang membuat ini semua? bahkan tidak pernah ada seorang ilmuanpun yang dapat menciptakan sesuatu diluar batasnya, aku mulai kebingungan dan tak mengerti … apa ini?, apa ini ? …

Sembari semuanya terjadi, aku mendapat tamparan keras dalam hidupku, kebebasan itu kini membungkam semuanya, aku seperti melawan diriku sendiri, melawan rasa bebas, melawan rasa amarah yang menjadi cerminanku, siapakah dia? siapa yang menyamaiku, bahkan persis sekali denganku, aku tak percaya dia penuh dengan rasa benci dan amarah, apakah itu yang aku lakukan selama ini ? akupun kebingungan dan mebuat semuanya seolah tidak pernah terjadi …

Hinar binar dirinya kini menjadi-jadi, ada kekuatan besar yang menyerangku dan aku tak kuasa untuk melawannya, aku begitu lemah, karena aku tak pernah mau belajar dari banyak kesalahanku. Kini tak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya diam dan terus dipukulinya, dicacimaki, dan diseru dengan amarah yang luar biasa.

Suatu ketika disaat aku tak mampu lagi menahan semuanya, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang menolongku, disaat rasa pasrah ada dalam diriku, disaat rasa amarah sudah bisa kuredam, disaat rasa ikhlas dan sabar mensingkronkan logika dan daya khayal, disaat semuanya terpusat kepada satu pikiran, aku mempunyai Tuhan. Ia yang punya kuasa atas segalaNya, ia yang mempunyai kuasa atas jiwa, raga, hati dan pikiran. Ia yang membuat diri ini begitu sempurna, membuat semua yang kulihat begitu nyata.

Aku baru tersadar ternyata rasa bebas yang kurasa hanyalah semu belaka, kini cerminan yang aku lihat sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, emosi yang mudah diredam seketika, berucap dengan tutur kata yang baik, dan batasan-batasan yang tak boleh kularang kini kupatuhi, dan aku kini melaksanakan kewajiban yang memang seharusnya kulakukan yaitu Beribadah kepadaNya. Pada akhirnya jiwa yang kosong kini terisi, rantai yang mengikat nadi telah hancur menjadi abu, rasa bebas yang sesungguhnya kini telah hadir. Kini aku percaya bahwa maksud dari kebebasan bukanlah bebas segalanya, terdapat aturan yang mengikat, terdapat benang merah yang tak dapat kulanggar, namun kini aku merasa sangat nyaman dengan semua apa yang dimaksud kebebasan.

Dalam hidup, ada hal yang diluar batas, akan muncul satu titik nyata yang dinamakan “pasrah”, setiap orang mungkin akan melawan cerminannya masing-masing, dengan cara yang berbeda mengatasi masalah yang ada, rasa pasrah itu akan mengenalkan raga pada nurani, mengetahui siapa diri, dan semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta, arti kebebasan sesungguhnya.


Senin, 17 Februari 2014

Camping Ground, Gonoharjo, Kendal, Jawa Tengah ...


Camping Ground, Gonoharjo, Kendal, Jawa Tengah

"Mensyukuri segala apa yang ada, menjaga apa yang sudah di anugerahkan Sang Pencipta, Karena alam dan manusia akan terus berdampingan hingga waktu itu tiba-Risalah alam dan manusia"

image

Dibawah rimbun pohon cemara …

Berlokasi di bawah kaki gunung Ungaran bertempat di Desa Gonoharjo, Kendal-Jawa Tengah terdapat keindahan tersembunyi yang benar-benar menyejukkan hati. Hijaunya pohon, jernihnya air mengalir, dan sejuknya udara adalah kenikmatan yang nyata. Banyak hal yang dapat kita lakukan di tempat wisata ini, diantaranya menikmati indahnya alam pegunungan, hangatnya pemandingan air panas, bermalam dengan bercamping ria, mendengar bercik air terjun yang dengan derasnya mengalir, semua itu sudah tersedia di alamNya.

image

Area Camping Ground …

image

Area Camping Ground …

image

Area Camping Ground …

Selain menyediakan tempat luas untuk lokasi berkemah, di lokasi wisata ini banyak sekali air terjun yang dapat kita jumpai, namun hal itu tidak mudah kita dapatkan karena lokasi air terjun yang cukup jauh dari lokasi Camping Ground. Berjarak sekitar 7 km kalian akan menemukan banyak sekali air mengalir dari hulu ke hilir, selain itu di lokasi ini juga terdapat banyak sumber air panas.

image

Salah satu sungai …

image

Airnya jernih brur …

image

Airnya lumayan deres …

image

Salah satu sumber air panas …

image

Air terjun mini …

image

Keren deh brur …

image

Curug Lawe …

image

Airnya deres banget …


image

Batunya gede-gede brur …

image

Air mengalir …

image

Mini Air terjun …

image

Airnya deres, hati - hati …

image

Batunya mantep dah…


image

Cuci Sepatu …

image

Tangga menuju tempat pemandian air panas …

Pada postingan ini saya hanya menyajikan foto-foto saja, bahwa wisata alam yang terdapat di Desa Gonoharjo, Kendal, Jawa Tengah adalah lokasi wisata alam yang benar-benar kumplit dan reccomended buat dikunjungi. Selamat bertualang kawan-kawan Traveler, jangan lupa berkunjung ya ke Gonoharjo. See U Next Trip.


Sabtu, 25 Januari 2014

Awal Kisahku "Sandikala"


Awal Kisahku “Sandikala” …

Kami terlahir bersama di dunia yang berbeda, aku hanyalah remaja biasa yang ditakdirkan hidup berdampingan dengan dia “Macan Putih” titisan dari eyangku. Masa kecilku tak berbeda dengan yang lain, namun banyak yang aku anggap tabu dari semua hal yang aku lihat. Karena yang aku lihat tak demikian terlihat oleh teman-temanku. Mereka adalah makhluk tak kasat mata atau yang sering kalian sebut hantu….

Imajinasi yang mencuat tidak membuatku risih dibuatnya, aku selalu merasa nyaman dan tak merasa sendirian karena ada teman yang berada disampingku. Saatku berlari kemanapun aku suka, aku tak pernah takut karena sahabatku tak pernah meninggalkanku. Orang tuaku bahkan tidak tau bahwa anak laki-lakinya terlahir dengan karunia dapat melihat hal yang dianggap gaib, dan aku sendiri menganggap semuanya baik-baik saja karena mereka tidak menggangguku … malah baik padaku…

Namun seiring berjalannya waktu, aku tumbuh besar bersamanya. Awalnya yang aku anggap baik-baik saja kini menjadi bumerang bagiku. Makhluk yang biasanya terlihat lucu kini semua telah berubah menjadi makhluk yang sangat menyeramkan. Setiap malam aku tidak dapat tidur cepat karena suara yang sama selalu muncul dijendela kamarku, ya … suara wanita selalu hadir menghampiri di setiap malam tidurku, entah mungkin dia sedang melihat hal yang lucu atau mendengar komedi dari temannya, yang jelas dia selalu cekikikan dengan suara yang khas dan biasa ada di film-film hantu, bahkan terkadang suara nenek-nenek yang selalu berbisik ditelingaku dengan nasehat-nasehatnya, aku semakin gak ngerti. Aku merasa kebingungan, mengapa semakin aku beranjak dewasa makin banyak hantu bermunculan ditempat bermainku bahkan dirumahku…

Kadang aku bertanya keheranan pada sahabatku, siapa sebenarnya mereka? mengapa mereka selalu menggangguku? apa salahku? aku kan hanya anak kecil yang gak bandel dan suka jajan? Lantas mengapa wujud mereka tak lucu sepertimu? mereka begitu seram dan aku merasa takut. Lantas dia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, yang ia lakukan hanya meraung karena pada dasarnya ia adalah “Macan Putih”. Aku tak mengerti apa yang ia katakan, dan hal itu membuatku semakin bertanya-tanya…

Suatu ketika aku sudah gak kuat lagi dengan keadaan yang ada, mereka yang awalnya hanya satu atau dua saja yang datang, kini membawa teman-temannya yang entah datang dari mana. Rambut panjang, wajah lusuh, pakaian putih yang sangat kotor, kini tertawa bersama temannya yang terbungkus kain kafan dengan wajah yang berantakan. Saat mereka mendekat, sahabatku selalu menjauhkan mereka dariku, menjagaku supaya mereka tak melukaiku. Aku menangis, gemeteran, dan sangat ketakukan, dan hal itu membuatku sakit beberapa minggu yang pada akhirnya aku dibawa oleh ibuku menuju paman, yang kemudian beliau membacakan ayat suci Al-qur’an dan aku merasa kepanasan, mungkin karena makhluk halus yang selalu mengikutiku, tapi yang jelas setelah di do’akan aku merasa jauh lebih baik dari sebelumnya, sembuh dan kembali bermain dengan teman-temanku…

Semakin lama aku semakin mengerti dengan apa yang terjadi, aku banyak belajar dari guru-guruku, dari kedua orang tuaku, dari teman dan sahabatku, dan dari Al-qur’an kitab suciku yang aku baca. Saat aku diberitahu bahwa sebenarnya kita memang hidup berdampingan dengan makhluk lain atau sering disebut jin aku tidak merasa gundah dengan itu, karena kehidupan mereka sama dengan kita umat manusia dan mereka adalah makhluk ciptaan Allah, dan tidaklah kita harus takut dengannya karena kita umat manusia diciptakan lebih sempurna dari mereka, satu hal yang pasti kita takuti adalah Allah Sang Pencipta. Namun semua kembali pada manusia itu sendiri, apakah akan baik atau buruk, dan di dunia jin pun sama, ada yang baik dan jahat. Matahari yang sama dan bulan yang sama, berpijak dan melayang diatas permukaan bumi yang sama, jarak mereka diibaratkan hanya satu jengkal tangan diatas kepala kita, seutuhnya mereka begitu dekat. …

Hingga usiaku 17 tahun, aku benar-benar mengerti dan paham bahwa semua yang aku alami adalah hal yang luar biasa, karena banyak sekali pembelajaran hidup yang aku dapatkan. Kini aku tau apa yang sebenarnya disampaikan oleh sahabatku, karena rauman itu sudah berubah menjadi kata-kata yang kian bisa aku mengerti, dan aku sudah benar-benar siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi, termasuk berbincang dengan makhluk astral lainnya yang dulu aku anggap menyeramkan. Ketahuilah, mereka dulu juga pernah menjadi manusia, memberikan rekam jejak apa yang pernah terjadi padanya, memberikan cerita yang penuh makna tentang kisah hidup yang bisa dijadikan pelajaran …

Banyak kisah yang aku alami bersama sahabatku “Macan Putih” yang kini benar-benar berwujud seperti aslinya semula, kami banyak berpetualang menuju tempat yang aku anggap menyenangkan, penuh tantangan, penuh sejarah dan budaya, penuh dengan cerita dan kisah pembelajaran hidup. Aku dan dia berpetualang bersama menyusuri hutan, berjalan di pantai, mendaki gunung, untuk mendengar banyak kisah dari makhluk halus dibanyak tempat, karena lain tempat lain cerita dan lain pula hantu yang menunggu ditempat tersebut. Kalian berhak percaya atau tidak dengan ceritaku, namun yang jelas banyak pelajaran dari kisah yang kami dapatkan di sepanjang perjalanan hidupku, kupersilahkan kalian berpetualang bersamaku dan sahabatku di bumi dengan dunia yang berbeda …




"TANGISAN GAUN PENGANTIN" !!!

"Tangisan Gaun Pengantin" !!! …

"Aku benar-benar merasa sendiri dalam hening, semua yang kuanggap baik kini berubah. Orang tuaku kini benar-benar kecewa. Entah bahagia ataupun sedih, aku sudah tak mengerti dengan itu. Hingga kini hanya sesak dalam dada yang kurasa. Namun semua telah sirnah karena aku memilih untuk tiada, mengakhiri dunia dengan caraku dan Tuhan tak suka."

Kau boleh memanggilku Dewi, aku adalah gadis semata wayang dari kedua orang tuaku, perempuan periang, terlahir cantik dan sangat polos. Usiaku kini sudah menginjak 20 tahun, aku bukan anak kecil lagi, aku adalah seorang Mahasiswi sekarang, dan yang jelas aku sudah mempunyai rasa yang dimiliki oleh remaja seusiaku yaitu rasa cinta.

Orang tuaku sangat menyayangiku, mereka benar-benar selalu menuruti apa yang diinginkan anaknya, termasuk bila aku memilih merantau keluar kota untuk kuliah. Namun demikian, ada satu hal yang tidak diijinkan oleh kedua orangtuaku, yaitu Pacaran. Selama ini aku memang tidak begitu perduli dengan yang namanya pacaran, bahkan aku selalu merasa heran dengan teman-temanku yang setiap hari pergi berdua dengan pacarnya dan pulang begitu larut, aku tidak mengerti dan tidak suka dengan hal itu, yang ada dalam benakku adalah apakah orang tua mereka tidak khawatir seperti orangtuaku yang selalu mengawasi kemanapun aku pergi? apa dia tidak takut dimarahi orang tuanya? bagaimana dengan pekerjaan rumahnya apabila dia setiap hari jalan-jalan? apa semua pekerjaannya tidak terbengkalai? … Itulah pertanyaan yang selalu ku fikirkan setiap harinya, tapi yasudahlah yang penting aku selalu pulang tepat waktu dan menyelesaikan tugasku dengan baik.

Hal itu terbawa hingga kini aku kuliah, padahal sebenarnya banyak sekali laki-laki tampan yang selalu menggodaku dengan rayuan yang mereka lontarkan dari mulutnya, tapi aku memberi respon yang biasa saja karena memang aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Hehehe aku memang terlalu polos dalam hal itu, wajar saja aku tidak begitu berpengalaman dengan yang namanya cinta.

Suatu ketika semuanya berubah, aku bertemu seorang laki-laki yang benar-benar berbeda, menurutku ia tampan, baik hati dan yang jelas perhatian, mungkin bisa aku bilang semua perempuan akan terpesona juga apabila menatapnya. Namanya Kak Damar, ia adalah seniorku, aku mengenalnya karena aku masuk kedalam satu organisasi yang sama dengannya, yang jelas dia benar-benar bijaksana dan berkharisma. Mungkin ini hanyalah perasaan biasa, hanya sebatas kagum dan tidak lebih dari itu. Hari demi hari kami selalu bertemu dan berbincang, mengobrolkan hal yang lucu disetiap rapat yang diadakan, dan itu yang membuat kami berdua semakin dekat. Setiap malam ia tak henti-henti menanyakan keadaanku, sedang apa? sudah makan belum? sudah shalatkah? dan entah kenapa aku tidak merasa risih dengan kehadirannya yang selalu mengusikku, malah kabar darinya membuatku tersenyum sendiri.

Suatu ketika aku termenung dijendela kamarku, menanyakan tentang perasaan ini, apa yang sebenarnya terjadi, yang aku rasa hanyalah detakan jantungku terpompa sangat kencang apabila ku dekat dengannya. Inikah namanya cinta, tapi aku gak pernah ngerasain jatuh cinta sebelumnya. Dan esok aku berjanji bertemu dengannya di taman tempat biasa kita rapat, aku diajak dia kesana karna katanya ada hal yang ingin ia sampaikan dan itu sangatlah penting. Aku benar-benar merasa tidak sabar untuk hari esok, sehingga aku terlelap dalam tidurku di awal waktu.

Pagi itu ia menjemputku di kosan tempatku tinggal, kebetulan tempat kos kami tidaklah terlalu jauh. Ia begitu rapih dengan pakaian yang dikenakan, tidak seperti biasanya.

Damar : “Pagi Dewi ?”
Aku : “Ehmm, Pagi Kak Damar. Maaf ya sudah menunggu lama”.
Damar : “Sudah siap berangkat ke taman? ada suatu hal penting yang ingin aku bicarakan berdua denganmu.”
Aku : “Siap dong, emang apasih yang ingin kakak sampaikan, aku penasaran nih …”.
Damar : “Nanti saja ya aku sampaikan di taman, hehehe”.
Aku : “Ah kakak benar-benar bisa buat aku penasaran …”.
Damar : “Hehehe, iya dong aku gitu loh … Ayo naik ! …”.

Akhirnya kami berangkat dengan sepeda motor yang ia kendarai, dan sepanjang perjalanan aku hanya melamun apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan padaku. Akhirnya kami sampai juga di taman.

Damar : “Dewi, aku mengajakmu ketempat ini karena ada yang ingin aku sampaikan padamu tentang suatu hal penting yang harus kamu ketahui, tapi kamu jangan kaget ya …”.

Aku: “Iya kak, Kenapa aku harus kaget? kakak kan gak nakutin, hehe … Bilang aja kak”

Damar : “Sebenarnya aku cinta sama kamu dew, aku bener-bener sayang sama kamu, mungkin karna kamu itu unik, kamu itu manis, cantik, lucu dan menyenangkan walaupun kamu itu bener-bener polos. Setiap aku disampingmu aku merasa nyaman dew”.

Aku : “Kakkkk …. Apaan sih, kakak bercanda mesti.”

Damar :”Aku serius Dewi, aku cinta sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?”

Aku : “Hmmm, sebenernya aku juga ngerasa nyaman kalau deket sama kakak, aku seneng soalnya kakak tuh baik banget sama aku dan aku gak ngerti setiap aku deket sama kakak hatiku dag dig dug, dan aku gak tau itu tuh apa. Tapi …”

Damar : “Kenapa dew?”

Aku : “Aku takut kak, dari dulu aku gak pernah diijinin buat pacaran sama orang tuaku, dan pasti mereka marah banget kalau tau aku pacaran, dan satu hal lagi … aku bener-bener gak tau pacaran itu harus kayak gimana aku gak mau buat kakak kecewa.”

Damar : “Dewww …. Aku janji, aku bakal jadi kakak yang baik buat kamu, aku bakal sayang sama kamu dan bikin kamu selalu ngerasa nyaman, kamu jangan takut ya … Mau yah jadi pacarku? ya ….”.

Pertanyaan itu tak kujawab saat itu juga, aku masih berfikir tentang perasaan orang tuaku, aku takut mereka marah kalau tau hal ini, karena mereka memang gak mau aku kenapa-kenapa, tapi … disisi lain aku juga mencintainya, dan akhirnya setelah tiga hari kufikirkan pertanyaan yang membuatku bimbang, menusuk lara dan menyayat batinku, akhirnya aku memutuskan untuk menerima cintanya kak Damar.

Aku benar-benar polos karena ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang laki-laki dan kujadikan pacar. Berbulan-bulan kami menjalani hubungan ini dan ia sangat baik padaku, ia benar-benar laki-laki yang bisa menjagaku. Namun, selama itu pula aku tidak pernah memberitahuku kalau kini aku mempunyai seorang pacar, karena aku takut kalau mereka tau pastilah marah besar padaku.

Selama menjalani hubungan ini aku benar-benar terlena dengan perhatian yang ia berikan untukku, hatiku selalu berbunga-bunga dengan cinta yang ia beri, selalu ada kejutan dan hadiah di setiap harinya.

Tak terasa sudah satu tahun kami menjalani hubungan ini, dan tanpa sadar sebentar lagi kak Damar akan menyelesaikan kuliahnya karena skripsi yang ia buat sudah selesai dan tinggal menunggu sidang. Setiap do’aku selalu kupanjatkan do’a terbaik untuk kedua orang tuaku dan dia, semoga orang yang aku sayangi selalu ada dalam lindunganNya.

Damar : “Dew, besok aku akan melaksanakan sidang skripsi, do’akan aku ya sayang”.

Aku : “Aku selalu mendo’akanmu kak, semoga kakak mendapatkan hasil terbaik”.

Damar : “Aku sayang kamu Dewi …”

Aku : “Aku juga sayang kamu kak Damar”

Malampun tiba, dan tiada henti aku menelfon kak Damar supaya ia tenang menghadapi sidang esok hari, aku yakin hatinya sangat risau untuk saat ini.

Aku : “Hallo, Malem kak Damar …”

Damar : “Hallo, Malem juga Dewi sayang”

Aku : “Kok, udah malam gini kamu belum tidur?”

Damar : “Kamu juga kok belum tidur dewi?”

Aku : “Aku mencemaskanmu sayang, aku tau kamu pasti cemas menghadapi sidang esok hari, kamu semangat ya jangan lupa berdo’a”.

Damar : “Kamu jangan khawatir ya, aku baik-baik aja kok, hehe … Kamu tidur ya, nanti aku tidur juga”

Aku : “Ia kakak sayang, aku tidur duluan ya …”

Damar : “Ia sayang, Selamat tidur …”

Keesokan harinya aku menemani Damar yang akan menghadapi sidang skripsi dan mencoba untuk selalu meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Aku menunggu diluar ruangandan terus berdo’a semoga ia diberikan kelancaran dan mendapat nilai yang memuaskan. Akhirnya ia keluar dengan wajah yang sangat senang,ternyata dia lulus dengan nilai IPK diatas 3.7.

Malam itu kami merayakan kelulusan ini dengan sangat gembira, dan tanpa sadar semuanya sudah diluar batas, aku tertidur di kamar kosnya, dan aku gak ngerti apa yang sudah terjadi semalam. Pagi itu aku terbangun dan benar-benar dibuat bingung olehnya karena badanku kini tak berbusana dan ada ia yang tertidur lelap disampingku. Kemudian ia bangun dan aku manangis.

Aku : “Kak Damar jahat !!!”

Damar : “Dewi … maafkan aku … aku tak bermaksud melakukan ini semua, namun karena aku sangat mencintaimu”.

Aku : “Apa ini maksud janji-janjimu dulu, akan menjagaku dan mencintaiku … Mengapa kau merusakku seperti ini !”.

Damar : “Aku akan bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan padamu, aku akan menemui orangtuamu untuk meminangmu Dewi, kamu jangan menangis lagi ya …”

Aku : “Aku gak akan pernah tau apa yang akan dikatakan orang tuaku, mereka akan marah besar padaku jika mereka mengetahui hal ini”.

Semua kebahagian yang ia janjikan ternyata hanyalah merusak masa depanku, kak Damar yang dulu baik padaku adalah laki-laki yang gak punya perasaan, ia jahat !!!. Namun aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan dia, karena sejujurnya aku tersadar akan kepolosanku yang membuatku merasa bodoh, jatuh kedalam lubang penuh dosa, aku benar-benar kecewa dengan apa yang aku lakukan, aku merasa malu dan marah pada diriku sendiri dengan apa yang terjadi.

Beberapa bulan kemudian aku merasakan mual yang tidak seperti biasanya, untung saat itu aku sedang berada dirumah sehingga ada ibu yang menolongku.

Ibu : “Dewi, kamu sakit nak?”.

Aku : “Enggak bu, aku hanya merasa mual saja, aku baik-baik aja kok”.

Ibu : “Lantas itu apa yang kamu pegang?”

Aku : “Hmm, apa bu aku gak megang apa-apa bu, aku baik-baik aja bu ..”

Ibu : “Sini ibu liat, kamu jangan coba boong sama ibu!”.

Aku : “Buuu, ini bukan apa-apa kok, ini cuma ….”

Belum aku selesai menjelaskan ibuku langsung mengambil test pain dari tanganku.

Ibu : “Astagfirullah Dewi !!!!”.

Aku : “Buuuuu ….”

Aku menangis dihadapan ibu, mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Namun ibu tidak mau mendengarkannya, dan saat itupun ibu mencucurkan air matanya, ia sangat marah terhadapku, ia benar-benar kecewa, aku tau hatinya sangat hancur mengetahui anak gadisnya hamil sebelum menikah.

Ibu : “Nak, kenapa nak? kenapa? Ibu benar-benar kecewa sama kamu, ibu merasa gagal mendidik kamu, Siapa yang melakukan ini padamu nak? Siapa !!!!??”

Akhirnya sambil menangis dan merasa sangat menyesal, aku menceritakan semuanya sama ibu, dan aku bilang Kak Damar akan bertanggung jawab atas semua kejadian ini, dan ia akan menikahiku.

Setelah kejadian itu aku seperti hidup tanpa nyawa, aku merasa menjadi anak yang sangat durhaka, kuliahku aku hentikan karena aku merasa malu dengan hal ini, dan suatu ketika akhirnya kak Damar datang menemui kedua orang tuaku, menjelaskan tentang apa yang sudah terjadi, meminta maaf dan ia mau bertanggung jawab.

Aku tau orang tuaku sangatlah sakit hati dengan hal ini, mereka merasa gagal dalam membesarkanku, namun demikian mereka masih memaafkanku dan mencintaiku sebagai anak.

Esok adalah hari penting untukku, hari dimana aku akan dinikahi oleh Kak Damar. Semuanya telah disiapkan olehku di hari ini, termasuk pakaian pengantin yang aku pilih untuk hari spesial ini, orang tuakupun sudah bersiap untuk semuanya. Namun, pagi itu bukan Damar yang datang menghampiriku melainkan sepucuk surat yang ia kirimkan. Dan surat itu berisikan bahwa ia tidak bisa menikahiku karena ia dijodohkan oleh keluarganya dengan wanita pilihan ibunya.

Setelah membaca surat itu aku benar-benar menangis tersendu penuh dengan rasa amarah dan dendam, rasa cinta kini sudah terganti dengan kebencian, yang ada di dalam hatiku hanyalah rasa dendam yang mendalam padanya. Saat itu pula ayahku kaget mendengar kabar yang tidak mengenakkan ini, ia terkena serangan jantung dan dilarikan kerumah sakit. Ibukupun pingsan terkulai. Aku benar-benar menjadi anak Durhaka, aku sudah mengecewakan orang tuaku yang sangat mencintaiku, aku sudah tidak mempunyai harapan, jiwaku sudah terasa hilang, aku merasa hanya menjadi sampah hidup di dunia ini karena perbuatanku sendiri.

Malam itu aku mengenakan pakaian pengantin yang seharusnya kupakai esok hari, aku sudah tak sanggup lagi menjalani hidup ini Tuhan, aku memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara melawan takdirMu.

Akhirnya aku memilih gantung diri dengan menganakan pakaian pengantinku, rasanya semuanya akan berakhir, ikatan tali itu mencekikku hingga aku benar-benar tak bisa bernafas dan akhirnya tak bernyawa lagi.

Ternyata, keputusan singkatku adalah hal bodoh yang aku lakukan, bunuh diri tidak menyelesaikan segalanya, rasa dendam dan benci itu terus menjalar dalam kematianku, dan seutuhnya Tuhan tidak menyukai apa yang aku lakukan. Hingga saat ini aku mendendam dengan laki-laki yang sudah menghancurkan hidupku “DAMAR !!!”

Pesan Terakhir Dariku :

Aku menyesali dengan semua yang terjadi, namun rasa sesal itu terasa percuma karena aku sudah membuat kesalahan fatal dalam hidupku. Jangan sesekali kecewakan orang tuamu, berlakulah baik pada mereka, turuti apa kata mereka selama itu benar-benar baik. Untuk kalian para Wanita “Jagalah diri kalian wahai wanita, janganlah mau sepertiku, kalian bolehlah polos namun jangan menjadi seseorang yang bodoh, ingat masa depanmu dan ingat perjuangan orang tuamu. Cinta mereka adalah nyata dan abadi.” Untuk kalian para laki-laki “Jangan sekali-kali permainkan wanita, ingatlah bahwa ibumu adalah wanita. Ketika kau ingin menyakiti wanita, ingatlah betapa sakit apabilah hal itu terjadi pada ibumu, Seutuhnya wanita adalah ciptaan Tuhan terindah untuk mendampingi hidupmu.” Untuk kedua orang tuaku Maafkan atas segala kesalahanku, aku sungguh menyesali semuanya, aku telah membuat kalian kecewa, namun aku sangatlah mencintai kalian “Ayah dan Ibunda”.

Dewi …