Minggu, 26 Mei 2013

Together We Can !!! Gunung Ungaran Semarang . . .

“Ungaran, Usaha dan Do’a yang terbayar”

“Kami bukanlah sekumpulan jagoan, Kami bukanlah brandalan, Kami bukanlah pendaki yang sembrono, karena kami mendaki untuk belajar, menikmati alam, mengenal diri, dan mengerti apa arti keluarga”



Ungaran, Gunung berapi yang menjulang tinggi 2070 mdpl di tanah bumi pertiwi. Sabana terpandang sayatan mata, hijaunya hutan kaya oksigen, birunya air yang mengalir dari hulu ke hilir, gelapnya malam ditemani emas gemilang bulan dan bintang, sautan kicau burung yang menyambut sang mentari pagi, sulfur dan fumarol senantiasa berucap, dan bongkahan batuan salam cinta para pendaki.

Ungaran adalah saksi bisu perjalan kami para sahabat, saksi bisu atas perjuangan kami saat mendaki, saksi bisu tulusnya hati mensyukuri nikmat sang Pencipta, saksi bisu yang menjadi jiwa dalam raga kami.

Desember 2012,

Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hayat, bersama sahabat mengukir cerita bersama, penuh canda, tawa, haru, juga perjuangan yang penuh emosi. Pada dasarnya kami ingin belajar, tentang cinta yang tertanam, aku “Rafli Riandi Kusnadi, dan sahabat “Imam Farchan Bagus Romario, Irham Bani, Jamal Ma’arif, Siti Rofikoh, Anindya Estiandari, I Gusti Bagus Adhiatma, dan Givandi Aditama” 8 orang yang mengarungi suka duka dengan kasih dan cinta.

Malam itu udara menusuk kalbu, menyelami hati kami para pemecah kesunyian malam, yang haus akan pembelajaran hidup yang akan terus bergulir. Aku dan Sahabat ada dalam satu tekad, berangkat dengan kekuatan hati, tak ada sedikitpun ragu yang menerpa jiwa yang sudah tak sabar ingin menikmati indahnya alam.

Berdelapan kami bergegas dengan roda dua yang berputar, perlengkapan yang hendak kami bawa diperiksa berulang dengan tajamnya mata dan pilahan tangan . Aku dan Sahabat berkumpul sejenak, menyantap gurihnya pizza hangat ulang tahun ka “Alukusuma”. Dengan perut terisi kami berangkat, dan rintik-rintik hujan senantiasa menemani perjalan menuju kaki gunung Ungaran. Aku bersama sahabat dan tongkat yang ku bawa berkumpul melingkar, untuk berdo’a meminta keselamatan pada sang Penguasa Alam, menghapus segala kesombongan dan keangkuhan, menyamakan . Dengan bodohnya aku berjalan dengan tongkat yang kubawa, langkah demi langkah pasti, aku dan sahabat meninggalkan posko pendakian, dengan pincang aku menjejaki kakiku melewati hutan. Namun satu hal … aku tak perlu khawatir, karena hadirnya sahabat yang senantiasa menguatkan mental yang meyakinkan hati bahwa kami mampu berjalan mencapai tujuan.

Malam itu aku dengan tongkatku, dan sahabat menempuh perjalanan hingga hijaunya perkebunan teh yang mengistirahatkan langkah, sebelum itu, suara bercik air mengalir dan suara binatang malam memberikan simponi yang indah sebagai satu irama yang penuh harmoni. Seteguk dua teguk air minum hendak meredakan rasa lelah dalam dada. Sejenak ku terlelap hati berseru bahwa rasa tenang ini tidak akan ku dapat saat ku berada dalam ramainya kota, bersama sahabat saling berbagi cerita, tentang setengah perjalanan yang baru saja di jejaki.

Aku dengan tongkatku dan sahabat melanjutkan cerita tentang kaki yang terus berpijak, setelah perjalanan mendatar di depan mata terlihat batuan terjal yang membuat dagu menganga, aku dengan tongkatku sejenak berfikir, bahwa ini akan sulit, namun tidak jika kita bersama, itulah kata sahabat. Ku tatap raut wajah wanita sahabat yang penuh dengan kobaran api semangat tanpa keluhan, ini yang membuatku bangkit, “bahwa mental yang kita punya, dapat mengalahkan keterbatasan yang kita buat”. Percayalah, keterbatasan itu tidak ada, melainkan usaha kita untuk berbuat, dan kuatnya do’a yang terpanjatkan.

Rangkulan tangan sahabat membantuku menogakan kaki menapak terjalnya batu, tanpa lepas saling menopang beban yang ada, dan tak terasa bahwa semua itu dilalui dengan tawa dan canda, walau sempat ada haru yang terdengar, membuat sahabat belajar akan arti cinta dan persaudaraan. Adapun jiwa ini terbakar oleh semangat segerombolan anak-anak penerus bangsa dengan semangatnya mendaki, ia mereka memang bocah, bocah SD yang mendaki dengan senyuman, tak terlihat sedikitpun lelahnya perjalanan, itu yang membuat otak dan hati menerka, bahwa kita mampu, kita bisa.

Rasa lelah, gelisah, emosi, keluhan yang sempat menerpa fikiran, terhapus sudah dengan keceriaan dan imbalan yang setimpal, akhirnya usaha dan do’a kami dikabulkan, karna pada akhirnya indahnya puncak gunung Ungaran bisa kami pijak. Aku dengan tongkat dan sahabatku kini percaya “Hal negatif dalam diri, akan musnah sejenak dengan fikiran jernih dan arti sebuah keluarga adalah nyata dan begitu berarti”.

Aku dengan tongkat dan sahabatku, akhirnya dapat menghirup sejuknya udara diatas puncak Ungaran, dan berkumpul bersama, menseruput hangatnya air kopi yang ditemani roti bakar dan nikmatnya mie instan dari sahabat, menunggu terbitnya sang mentari menyongsong pagi itu. Tampak lembayung fajar mewarnai birunya awan, gradasi warna kemerahan menyambut indahnya mentari.

Inilah kami, aku dengan tongkat dan sahabatku yang menikmati indahnya kebersamaan, indahnya berbagi, indahnya menguatkan hati, menikmati indahnya alam, dan indahnya karikatur dunia ini yang dibuat oleh sang Pencipta. Ini adalah awal, yang penuh pelajaran hidup yang mengawali langkah kami menjejaki indahnya dunia dan CiptaanNya. Terimakasih untuk sahabat, burung elang terbang diatas memutar, welang yang senantiasa mendampingi, dan tongkatku yang mau menopangku dari jauh …





”Together We can, and believe it”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar