Selasa, 28 Mei 2013

PENDAKIAN GUNUNG SINDORO


ROMANTISME SINDORO SUMBING

“Gunung Sindoro, Mbah Sindoro, dan Para Pendaki”

Harusnya gua bikin judul “Fix Gua Keracunan Naik Gunung !” Kenapa oh kenapa … soalnya saat itu masih liburan musim panas brur, alias liburan UAS minggu ke-3 bulan Februari, apa urusannya ya liburan ke-3 atau ke-4 #mikirkeras, jadi begini ‘mulai bercerita’ … sebenernya seminggu sebelum hari itu gua udah naik Gunung Lawu, ya kalii kan selang seminggu langsung naik lagi. Cuman dalam otak gua, hasrat yang menggebu-gebu buat naik gunung udah gak kebendung lagi bro, macam anak usia 20 taun minta dikawinin sama orang tuanya “Trs Knp?” itu kan lagi hits sekarang” ok itu gak penting.


Gunung Sindoro udah gak asing lagi buat gua, soalnya sebelum naik Lawu gua udah nanya-nanya tentang Sindoro gitu, tapi lu mikir gak men betapa gobl*knya gua, masa iya gua mau naik lawu tapi gua nanya tentang Sindoro … jadi kayak lu ngincer Aisyah tapi nanyain Jaenab, kagak nyambung lah istilahnya. Hmm … Siapa Aisyah ?, siapa Jaenab ? …hahahaha, tetangga sebelah gua itu, kalau mau kenalan entar gua kenalin deh … haha” ok ini Salah Fokus … . !”.

image

“Ini Tujuan Kita, Puncak Gunung Sindoro”

Sebenernya gua udah tau tentang Sindoro gitu dari om gua, yang aslinya dia tinggal dibawah kaki gunung Sindoro sama keluarganya, makanya dia paham banget sama itu gunung. Bahkan waktu pas itu ada ‘kabar burung’ Sindoro aktif, keluarga om gua ngungsi gitu ke tempat yang lebih aman. Cuma yang gua aneh, kok manusia sekarang percaya ya sama kabar dari burung, “Jago banget itu orang ngerti bahasa burung”, jadi pengen belajar bahasa burung biar gantengan gitu ‘nambah ngawur ini cerita’ -___- …

Perjalanan seperti biasa dimulai dari Singgasana pertapaan, alias rumahnya Dimas Galih sohib seatap seperjuangan. Waktu itu gua ngajak dimsgal sama baikops buat ikut ngedaki lagi, cuman apa daya mereka abis naik Ungaran semalem, jadi seharian waktu itu paginya pada teparrrrr, alias molorrrrr kayak kebo lagi telerrrr. Akhirnya gua kebingungan mau ke Temanggung sama siapa? tapi tenang sob, gua ini cowok yang tegar kok, jadi berangkat sendiri juga selow-selow aja … #sojantan hahaha padahal waktu itu ampir gua cancel acaranya.

Teteretterettttt. teretttttttt … . “Suara Terompet zaman Belanda” …

Bak Pahlawan orang Kuningan tiba-tiba datang, iya asli tuh orang dari Kuningan, Cirebon, yaitu sohib gua yang selama liburan nanya kapan naek Gunung, lelaki jantan yang hobinya ngegym, bahkan kalau push up dia bisa tanpa pake tangan, macam Avatar angggg pengendali angin. “Gak usah dibayangin, gua yakin lu pada gak percaya” #okesip.

Horeeeeee seneng gua akhirnya ada yang mau nemenin ke Temanggung, hahahahha … jingkrak jingkrak sambil koprol. Akhirnya kita packing buat keberangkatan nanti sore, kenapa sore berangkatnya, soalnya waktu itu hari Sabtu 16 Februari siangnya ujan gede, jadi kita harus nunggu hujan reda. Akhirnya jam set 4 abis salat ashar kita berangkat naik angkot kuning arah Banyumanik. Setelah nunggu beberapa saat di terminal, datanglah “bus badai” yang arahnya itu ke purwokerto, kenapa gua bilang itu bus badai, soalnya itu bus kayak abis kesamber petir dan abis kena tornado … tapi satu hal, gua salut sama onderdilnya yang kuat nanjak men, gua juga bingung kenapa itu mobil masih di pake, jawabannya adalah peminat … dengan harga ekonomis lu bisa muter-muter naek itu bis, waktu itu kita kena ongkos 18 ribu ke Temanggung, cukup murah kan,dari pada lu jalan dari Semarang ke Temanggung, gratis sih gratis paling copot tuh kaki.

Setelah ngetrip 3 jam perjalanan, kita sampe juga di Temanggung dan waktu itu kita udah janjian sama kuncen Gunung Sindoro, sebut saja Yudha Jatmiko, laki-laki separuh baya yang sudah berkeluarga ini tinggal di desa Ngaderjo yang aslinya jauh dari rumah om gua. Malam itu kita tinggal di rumahnya yudha, yang aslinya keluarganya baik banget sob . .. ayoooo siapa yang mau jadi pacarnya yudha ladies ? dia single loh “Trs Knp?”. Keesokan harinya berhubung gua udah janji sama om buat kerumahnya, pagi-pagi jam 6 gua ngunjungin rumah om, yang pada akhirnya ngerampok makanan di rumahnya, dengan baik hati om ngasih perbekalan buat kita naik waktu itu, kan lumayan sob buat makan malam.


Pukul 11.45 Aakhirnya kita berangkat dari singgasana Yudha Jatmiko, dengan persiapan yang sangat matang, fisik yang mantap, mental yang tertantang, dan tak lupa membawa rantang isi makanan.


image

“tas carrier saksi perjuangan”


Kita ber-3 berangkat naik bus arah wonosobo, soalnya kita mau naek jalur Kledung, yang harus di capai 2x naik bus, untung harganya murah sob, cuma Rp.2000 saja untuk sekali naik bis, jadi total Rp.4000. Dari ngaderjo kita ke arah pasar Temanggung yang faktanya pasarnya udah di bongkar, karna di lokasi pasar ditemukan sejenis sumur yang diperkirakan usianya sudah ratusan tahun, mengindikasikan sumur tersebut digunakan oleh kerajaan saat itu sebagai mata air, tapi keren juga ya sob, ini namanya “Jaya Sumurku, Lenyap Pasarku” tapi jangan salah, dengan di gusurnya pasar ini dan dipindah tempatkan lokasinya, menjadikan tempat penemuan ini sebagai tempat wisata sekarang,dan diperkirakan di lokasi ini ada candi yang terpendam, yang gedenya segede gaban, katanya.

Setelah sampe pasar kita naik lagi bus arah wonosobo lagi, diperjalan ada sebuah fenomena yang terjadi di masyarakat kita.image

“ini anak digendong, apa diketekin”

yang jelas di “TKP” anak tersebut terlihat sangat nyaman di gendong dengan style seperti itu, emang udah lama banget sih brur gua gak lihat anak kecil di gendong sama ibunya, apa ini style baru gendong 2013?, apa gua norak banget baru lihat style kayak gini?, pertanyaan bodoh yang muncul dalam otak gua saat itu. Yang jelas seorang ibu yang baik akan selalu melindungi anaknya, dimanapun, kapanpun, setiap detik dan hela nafasnya. Ini fakta bahwa kasih ibu adalah sepanjang masa dan hayat. Cintailah ibumu, karena cintanya adalah nyata”.


Pukul 12.15 WIB setelah perjalanan cukup lama yaitu sekitar setengah jam, kita sampai di posko pendakian, yaitu Desa Kledung, Wonosobo. Setelah strecing sebentar dan menunggu hujan reda kita langsung otw mendaki Gunung Sindoro. Gua kira kira pas kita jalan itu udah di kaki gunungnya, ternyata itu semua hanya fatamorgana sob, lu harus jalan sekitar setengah jam buat sampe kaki gunungnya, hahahaha … cukup melelahkan, cuman semuanya terbayar dengan sejuknya udara dan indahnya perkebunan.

#sindoropunyacerita Peta Jalur Pendakian Kledung


image

“Menuju kaki Gunung Sindoro, dengan cuaca mendung”

Pukul 12.45 kita sampe di kaki gunung, setelah istirahat sejenak kita langsung berangkat melaju menuju pos 1 yang di tempuh sekitar satu jam yang kemudian kita istirahat dan salat dzuhur di pos pertama. Setelah salat keluhan yang tadinya datang bertubi-tubi berubah menjadi semangat yang meyakinkan langkah untuk mendaki. Ok perjalanan dilanjutkan, pos 2 di capai satu setengah jam kemudian, nah disini kami bertemu dengan pendaki asal jogja yang udah kayak kesebelasan sepak bola, rame lah pokoknya, cuma sayang sekali mereka sudah selesai mendaki dan sedang jalan pulang. Sepanjang perjalanan kita berharap supaya menemui pendaki lain di puncak, namun faktanya sepanjang perjalanan kami malah bertemu dengan pendaki yang hendak turun, tapi kami tetap yakin di puncak nantikami akan bertemu pendaki lain.

Perjalanan menuju pos III dari pos II, saya bertemu dengan mbah-mbah, berbusana gamis, dengan jenggot putih dan lurus dengan sorban yang mantap melintang, sebut saja mbah Sindoro. Kemudian kami berbincang seputar Gunung Sindoro, dan ternyata mbah ini menjaga hutan observasi di Sindoro, kata mbahnya sudah banyak terjadi pembalakan liar di wilayah hutan gunung Sindoro, dengan cara yang tidak berperiketumbuhan, ada yang melakukannya dengan membakar, dengan merusak, menebang tanpa pandang bulu, ya intinya menghancurkan, makanya mbah Sindoro senantiasa menjaga lokasi ini dengan arif dan bijaksana, dengan mengajarkan kita untuk menjaga kekayaan hutan yang memberikan banyak manfaat. Penasaran dengan apa yang dikatakan mbah Sindoro bahwa dibalik gunung sebelahnya kita akan melihat kerusakan yang nyata, maka perjalanan dilanjutkan. Saat itu mbah Sindoro hanya menyampaikan pesan seperti itu, dan satu pesan lagi adalah, “kalian akan menemui pendaki yang berjalan luntang lantung di atas puncak” untuk menjawab pernyataan dari mbah, maka kita harus mencapai puncaknya.

Perjalanan menuju pos III adalah satu jam dari pos II, pukul 16.45 kita berhenti sejenak untuk makan, salat, dan istirahat. Setelah semua selesai kami melanjutkan perjalanan, akhirnya dari pos III kami sampai di puncak pukul 19.00 WIB, dan faktanya interpretasi kita akan bertemu dengan pendaki lain diatas puncak adalah fatamorgana selanjutnya, buseeetttt dahhh ternyata kita di puncak cuman ber-3, mana anginnya gede banget lagi, masa iya kita mau balik brur udah nyampe puncak. Andaikata ada flying fox dari puncak ke posko bawah, pasti kita ber-3 langsung loncat berterekel ria. Namun faktanya kita harus menghadapi kenyataan, akhirnya tenda dengan tegapnya berdiri buat kita neduh dan istirahat, bekal yang kami bawa akhirnya disantaapp, yang jelas mantapp banget dah itu makanan. Soalnya laper mampussse.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00, dan diluar tenda ternyata ada suara kaki seperti pendaki, ini fakta yang ada yang disampein sama mbah Sindoro, kalau dipuncak kita gak akan ngerasa sendiri sob, akan selalu ada makhluk lain yang menemani, ternyata setelah berbincang di Sindoro ini cukup banyak pendaki yang meninggal, ada yang akibat hiportemia, akibat dehidrasi, akibat menghirup gas sulfur di kawahnya yang sangat aktif. Ini menjadi pelajaran bahwa persiapan adalah mutlak, dan keselamatan adalah yang utama.

Keesokan harinya kita bangun pagi pukul 05.30 WIB, sejuknya pagi itu ditemani hangatnya sunrise di puncak Gunung, mantap dah pokoknya,asikk gileee pemandangannyaimage

#sindoropunyacerita sunrisenya malu-malu brur

image

#sindoropunyacerita kegirangan … sunrisenya mulai konser

image

#sindoropunyacerita Asik dah ! muncul juga ini sunriseimage

#sindoropunyacerita Anget-anget gimanaaaaa…. gitu

image

#sindoropunyacerita Nonton Konser Sunrise Kursi VIPimage

#sindoropunyacerita Kabut bukan halanganimage

#sindoropunyacerita Sama Juru Kunci Sindoro nih

image

#sindoropunyacerita Sama Abang-abang gym

Ok sekarang gua mau cerita lagi nih, lu jangan pada bosen dulu dah ya, hehehehehe … . setelah menikmati indahnya sunrise, kita memutuskan buat ngiterin puncak Sindoro, yang faktanya cuman kita ber-3 diatas puncak “berasa gunung pribadi” … sedikit cerita tentang Sindoro dan Sumbing.image

#sindoropunyaceritaPanorama di depan Gunung Sindoro

Sindoro - Sumbing kalau kata masyarakat sih kedua Gunung ini merupakan Gunung Kembar soalnya berdampingan dan mempunyai legendanya sendiri, tapi gua gak mau bilang mereka kembar ah… ‘anti mainstreem’ hehehe, kenapa oh kenapa? gua lebih seneng menginterpretasikan mereka itu ibarat kekasih yang berdampingan, sotoy banget ya gua, hahaha, biarin lah namanya juga manusia punya interpretasinya sendiri. oh iya gua belum ngenalin Sumbing itu yang mana ke kalian, hmmm … keliatan kan … itu tuh yang di depan lu gunung tampang kanan sebelah depan dan aslinya itu gunung gede abisss men, yang jelas itu gunung lebih gede dari pada Gunung Sindoro sendiri. Di belakangnya itu ada Gunung Merbabu yang ditengah-tengah, dan Merapi sebelah kanannya. Sebelah kirinya apaan ya … hmmm lu cari aja di go*gle, haha pasti ada.

Sindoro dan Sumbing kalau menurut pandangan gua, mereka itu mempunyai cerita yang unyu gitu, lebih unyu dari pada pacar lu yang kerjaannya cuman bilang sayang di mulut, dengan hati yang berkelana, #eh. Kalau gua bilang mereka itu pasangan sejati, berarti harus ada yang laki, dan ada perempuan … mana bisa mereka itu laki semua, maho dong ‘.’)/ atau cewek semua alias lesbi. Ok tenang saudara pendakwah sekalian, menurut interpretasi gua, gunung Sindoro itu suaminya gunung Sumbing, kenapa demikian … Hmmm, jadi begini ceritanya …

Pada zaman dahulu kala ‘fix ngedongeng gua’ , hiduplah 3 sahabat, yaitu Sindoro, Sumbing, dan Slamet … gilaaa mennnn tripleeee “S”, ‘TRS KNP?’ ok lanjut, jadi awalnya mereka itu sahabatan gitu men, kalau usianya mungkin, seusia sama mahasiswa S-1 yang udah siap di wisuda, berapa tuh usianya … berpariasi ya -__- ok salah pengilustrasian. munkin usianya sama kayak orang yang siap kawin, eh nikah sob. Jadi dulu tuh triplee “S” ini udah jadi sahabatan dari kecil, sampe kuliah kuliah juga bareng, makan bareng, tapi mandi masing-masing, yakaliiiiii … hahaha, oh iya gua belum cerita kalau misalkan Slamet itu juga laki sob. Jadi pas kuliah Sumbing itu jadi kembang kampus gitu, bukan ayam kampus ok, “Catet”, makanya banyak yang nyerbu, ya salah duanya sahabatnya, yaitu Sindoro dan Slamet. Cuman fakta mengatakan kalau Sumbing itu sayang sama Sindoro men ketimbang Slamet, akhirnya Sindoro dan Sumbing jadian … “Malang banget nasib lu met” … ok apakah ini cerita udah kelar?, belum sobbb… dan ternyata selama bendera kuning belum melengkung, eh bentar, bendera kuning itu buat orang yang meninggal ya… ok ganti, sebelum janur kuning belum melengkung Slamet gak mau nyerah gitu aja, akhirnya dia terus menerus mengganggu hubungan Sindoro-Sumbing, dengan menyebar pitnah kalau Sindoro itu punya selingkuhan lain, disini Sumbing malah percaya sama Slamet “jago hasut nih !’ akhirnya karena pitnah yang di sebar sama Slamet, Sumbing mutusin Sindoro dan akhirnya Sumbing jadian sama Slamet.

Perjuangan cinta Sindoro belum kelar disini, Sindoro merasa ada yang menghasut dirinya, dan akhirnya dia tau kalau Slamet yang pitnah hubungan dia sama Sumbing “lu gak usah bayangin Sindoro tau dari mana Slamet yang ngehasut, gua aja gak ngerti …”. Akhirnya dia ngajak duel Slamet, dan pengen ngebuktiin kalau cintanya dia ke Sumbing bukan sebatas fatamorgana ‘Edaannnnnn maco ni gunung’, Langsung lah dia menemui Slamet dan Sumbing yang lagi mojok di kantin kuliahan, dengan tersipu malu Sumbing hanya bisa terdiam “maaf ini bukan ftv”, cuman yang jelas Sumbing mengiyakan mereka bertarung buat pembuktian cintanya ke Sumbing. Akhirnya suatu malam terjadi pertempuran hebat Sindoro dan Slamet. Walau Slamet lebih gede dari pada Sindoro, tapi Sindoro kagak gentar sob soalnya die punya senjata pamungkas, alias kekuatan cinta …hahaha, ok ini lebay. Mereka mengeluarkan senjata masing - masing yang berupa lahar panas, lahar dingin, dan batu-batu piroklastik, setelah semalam suntuk mereka maen catur “bertempur”, akhirnya ternyata Sindoro kena hajar Slamet dan terluka parah. Lu tau sob, ternyata Sumbing enggak bobo enak di kasur empuk rumahnya, dia ternyata nyaksiin pertarungan Sindoro-Slamet, pas Slamet mau nge skakmat Sindoro dengan senjata huru haranya, tiba-tiba Sumbing datang dengan melindungi Sindoro, namun ternyata senjatanya sudah di tembakan oleh Slamet ke arah Sindoro, oh men kenapa Sumbing melakukan ini, apakah ini Cinta? ‘stel mp3-Inikah namanya Cinta’ , dan akhirnya Sumbing terluka, melihat hal ini Sindoro terbakar api power ranger, kemudian dia pasang badan ke depan Sumbing dan akhirnya menghajar habis Slamet dengan kekuatan Ultramannya Sindoro berhasil menghajar Slamet hingga jauh, dan akhirnya Sindoro-Sumbing menikah sob, dengan Sumbing berada di depan Sindoro dengan lokasi Slamet yang jauh di belakang Sindoro, hingga saat ini Sindoro selalu melindungi Istrinya tercinta Sumbing dengan penuh kasih sayang. Akhirnya mereka hidup bahagia selamanya -The End. ‘Cerita ini hanya interpretasi penulis, terima kasih’


Kalau menurut gua sih Sindoro itu emang gunung yang bertanggung jawab sob, dia itu cocok jadi pemimpin, tegas, dan bisa ngelindungin pasangannya apapun yang terjadi sama dia, kalau lu liat kawah yang ada di Sindoro, mungkin itu bekas pertempuran dia sama Slamet, yang sekarang aktifnya bukan main. Tapi tenang aja sob, seganasnya Sindoro dengan kawahnya yang ekstra aktif, amarah Sindoro bakal tetep dijaga oleh kelembutan hati Sumbing, ini menunjukkan arti kesempurnaan cinta ang sesungguhnya Sebenernya Kesempurnaan tidak terlahir dari sesuatu yang sempurna, justru kesempurnaan datang dari ketidaksempurnaan yang saling melengkapi” , terima pasanganmu apa adanya, yang bisa menerima kekuranganmu, yang bukan hanya melihat kelebihanmu. “walau single masih bisa ngasih saran kayak gini” #miris.


Maaf kalau ceritanya panjang sob, gua mau cerita lagi, gua mau ngeliatin kawah yang gedenya Subhanallah.

image

#sindoropunyaceritaIni dia Kawah Gantengnya Sindoro
Ada cerita sendiri dari kawah ini sob, penghujung tahun 2012 lalu ada dua pendaki yang meninggal akibat menghirup gas sulfur di kawah tersebut, dari fakta yang ada keduanya turun ke bawah kawah, dimana kawah tersebut emang aktif banget, gara-gara menghirup gas sulfur yang pekat, kedua pendaki ini akhirnya meninggal dunia. “Ini pelajaran, untuk kita selalu belajar terhadap alam, bahwa di dunia ini kita hanya manusia biasa yang penuh khilaf, selalu ingatlah akan sang Pencipta.

Setelah muter-muter puncak gunung yang ternyata ada lapang bola di puncaknya, Sekitar pukul 09.00 akhirnya kita mutusin buat turun gunung, namun kita gak turun lewat jalur mendaki kemaren, kita turun lewat belakang punggung gunung Sindoro, yaitu lewat jalur pendakian tambih. Jalur ini emang sedikit terjal, kita ber-3 lari-larian pas turun bukit, akhirnya pukul 12.00 kita sampe dibawah, dan ternyata itu adalah kebun teh, yang asal lu tau itu kebun gede banget, kita musti jalan 3 km buat menuju jalan utama, ini yang disampein mbah Sindoro waktu itu, bahwa faktanya pergantian lahan pohon-pohon gede digantiin samaperkebunan teh, entahlah apa yang dipikirin manusia sekarang, mungkin dianggapnya keuntungan jauh lebih penting dari pada lingkungan.

Setelah setengah jam berjalan, kita sampe di jalan, dan nunggu angkutan umum, fakta yang ada adalah, gua kira angkutannya itu angkot gitu kan, ternyata eh ternyata, angkutan umum disini adalah mobil bak terbuka, wah mantep kan. Setelah 15 menit perjalanan kita turun lagi, dan harus naik angkutan lagi. Gua akuin orang disana baik-baik sob, kita naik kendaraan mereka dengan cuma-cuma alias gratis, abis itu kita jalan lagi, dan daerah desa setelah tambih ada candi gitu, ang katanya airnya dianggap suci sama orang Hindu, tapi gua gak sempet masuk ke lokasi. Setelah berjalan 3 km lagi, kita akhirnya dapet tumpangan lagi dari warga sekitar yang arahnya sama ke arah singgasana Yudha, di sepanjang perjalanan gua ngeliat banyak candi, emang bener dah ini Kota bukan sembarang kota, ternyata Temanggung sudah banyak ditemukan artefak dan prasasti, keren banget ini Kota, penuh sejarah. Setelah turun dari angkutan kita jalan lagi, kata Yudha sih cuman 3 dusun, ternyata men ini bikin kaki gempor, alias lu harus jalan 5 km buat ngelewatin 3 dusun ini, untungnya yudha ngajak kita ke mata air daerah Temanggung, yang aselinya itu air jernih banget, dan kita jebur-jeburan disana.

Sampe juga dirumah Yudha Jatmiko dan sekitar pukul 16.00 WIB kita pamit dari rumah Yudha, dan kita caw ke terminal sekitar pukul 17.00 WIB soalnya kita makan mie gitu, yang pastinya enak banget. Akhirnya kita pamit sama yudha, sama orang tuanya, sama adeknya yang lucu namanya Adji, sama Gunung Sindoro dan Sumbing, sama Mbah Sindoro yang selalu jaga hutan, sama om yang udah ngasih perbekalan mendaki, sama supir yang sudah memberi tumpangan gratis, sama banyak orang yang kita temuin di sepanjang perjalanan yang super ramah, sama prasasti, artefak, sumur tua, dan candi-candi di kota Temanggung, akhirnya kita balik ke kota tempat kita kuliah, alias Semarang. Akhirnya kita sampe semarang pukul 21.00 WIB. Yang jelas gua harus balik lagi ke Temanggung, hehe… buat ngedenger kebaikan Sindoro langsung dari Sumbing, makasih banyak buat Sindoronya teman-teman satria 3 … . See U next trip.

image

image

#sindoropunyacerita sama kuncen Sindoro

image

#sindoropunyacerita panorama punggung Sindoro

image

#sindoropunyacerita lagi begaya

image

#sindoropunyacerita tugu puncak ketinggian sindoro oleh bupati.

image

#sindoropunyacerita masih botak

image

#sindoropunyacerita begaya diatas kawah

image

#sindoropunyacerit canda saat ngaso

image

#sindoropunyacerita bukan iklan

image


#sindoropunyacerita segarnya susu di pagi hari





3 komentar: