Pendakian Gunung Lawu …
"Gunung Lawu, Mbo Yem, dan Mbah Petapa"
Cikampek, 8 Februari 2013
Hari ini adalah hari libur, hari dimana seharusnya mahasiswa sibuk macam gue liburan. Udah sekian minggu gue dirumah, dengan aktivitas yang sama setiap harinya. Makan, tidur, bangun, nonton, udah jadi aktivitas yang gak bisa gue lewatin di liburan kali ini.
Gak mungkin selama 2 minggu kedepan kegiatan bakal kayak gini-gini aja, maka di minggu ke-2 bulan Februari 2013 ini gue memutuskan buat cabut dari rumah. Bukan berarti minggat, melainkan gue bakal nyoba sesuatu yang baru, yaitu naik gunung. Kebetulan satu minggu yang lalu gue udah janji sama temen-temen yang lain buat ngedaki Gunung Lawu.
Gunung Lawu merupakan sebuah gunung api strato yang terletak di Jawa Tengah, tepatnya di Kabupaten Karanganyar, lokasinya tepat diperbatasan antara Jawa Tengah (Karanganyar,wonogiri) dengan Jawa Timur (Magetan).
Best View Puncak Lawu …
Jujur, waktu itu gue emang lagi girang-girangnya naik gunung. Jurusan yang membawa gue ngedapetin euforia kayak gini, jurusan yang jadi pilihan gue buat kuliah, jurusan yang isinya ngutak-ngatik permukaan bumi dan isinya, jurusan kuliah yang jadi impian gue dari SMA, inilah jurusan yang dinamakan Geologi.
3 hari sebelum keberangkatan, ayah gue nyaranin buat bikin T-Shirt sebagai oleh-oleh buat temen-temen, alhasil beberapa kaos gue bawa buat dibawa ke Semarang.
Keren kan brur, Produksi sendiri nih … Made by. ranafa production.
Sumurboto 1/13, 9 Februari 2014 pukul 06.30 WIB
Hari itu udah tiba, sekarang waktunya gue buat bersiap berangkat dari Semarang meuju Solo. Perjalanan kali ini gue ditemanin sama 2 sohib sekamar, seperguruan, beda ibu, beda bapak, tapi satu misi … Hike to Mt Lawu 3265 Mdpl.
Baihaqi,Dimas, Osin, Ajeng, Gue.
Ok gua kenalin satu-satu. Bapak kos gue yang sekaligus temen sekamar, brader seatap, itu yang pake kacamata, namanya Dimas Galih Sawung Putro, saat ini dia masih single, hahaha padahal sama -__- kalau ada bapa kos pasti ada ibu kos, yang cantik dan unyu-unyu gitu, mba “Alukusuma” yang pas naik Ungaran kita dikasih pizza hangat Gratisan saat dia ulang tahun. Adek kos kecil kita yang kayak putri Solo, dia masih SMP tapi tingginya bukan main, namanya “R.Ajeng”. Satu lagi yang harus gue kenalin adalah Baihaqi Fahmeiza Yusuf, kerjaannya baca manga, orangnya care, dan dia paling sering ngalah kalau lagi ada masalah, tapi sekalinya ngamuk jangan macem-macem sama dia.
Berangkat pukul 07.00 WIB, kami menggunan angkot dari Sumurboto menuju depan patung Diponegoro, terus disambung lagi naik angkot sampe terminal bis depan ADA Swalayan. Baru aja sampe, 5 menit kemudian bis jurusan Solo udah dateng dihadapan gue, tanpa basa-basi semua langsung naik ke bis Patas, Full Ac, jurusan Solo. Dengan kocek 20 ribu kita udah bisa sampe terminal Solo.
Sebenernya kami gak naik gunung bertiga, kami udah janjian sama temen gue anak Teknik Kimia Undip yang 3 taun bareng di SMA, yang katanya mau dateng sendiri ke terminal, ternyata dia bawa arek-areknya, panggil aja dia Fadhilis Syakur yang rumornya gagal move on dari mantannya, dan arek areknya “Hanif Izzata Arko, Hansen Hartanto,sama pengawal mereka Ilham”.
Masih ada tambahan lagi buat kami berangkat, kita kedatangan Bapak Muhammad Dani Satria dengan teman seperjalan SMAnya, sebut saja mereka Rheza dan Arul. Ada satu orang lagi yang belum gua kenalin, pribumi asal Solo, dia yang punya ide buat ngajak kami semua naik Gunung Lawu, itulah Jamal Ma’arif.
Dari terminal Solo ini kami harus berangkat menuju Tawangmangu, hanya dengan kocek Rp. 3500 kita udah dianter sampe lokasi. Mobil bus yang semberawut ini menambah adrenalin kami yang udah gak sabar menginjakkan kaki di pintu pendakian Gunung Lawu, Cemoro Kandang.
Sepanjang perjalanan gue sama Jamal cuma bisa berdiri, karena kami harus mengalah sama orang tua yang sekiranya lebih membutuhkan tempat duduk untuk mereka beristirahat. "Hargai semua orang tua, dimanapun, siapapun, kapanpun, gak peduli lu kenal, atau baru kenal".
Setibanya di Terminal Tawangmangu yang faktanya mempunyai lingkungan yang ekstra bersih, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Makan, solat, dan minum secangkir teh anget yang bisa menghangatkan badan. Udara disini sudah mulai mendingin, ini artinya kami sudah berada di lokasi dengan elevasi yang cukup tinggi.
Tawangmangu, 9 Februari 2014 pukul 15.20 WIB
Setelah hujan reda akhirnya kita segera berangkat menuju posko pendakian yang berada di Cemoro Kandang. Jalur pendakian Gunung Lawu sebenernya ada 2, yaitu Cemoro Kandang yang akan kami lalui, dan Cemoro Sewu yang merupakan jalur berupa anak tangga di sepanjang pendakiannya.
Kami berangkat menggunakan mobil L-300 sewaan, dengan harga Rp.100.000/10 orang. Mobil ini udah mirip mobil perang, yang bisa nampung banyak orang dan barang-barang. Setelah perjalanan sekitar 25 menit, akhirnya kami tiba di pos pendakian Cemoro Kandang.
Cemoro Kandang, 9 Februari 2014 pukul 16.00 WIB
Sehabis berbincang dengan penjaga setempat, dan membayar registrasi pendakian Rp.2500/orang, kami kumpul buat berdo’a dan siap untuk memulai pendakian.
"Kemanapun kita pergi, berdo’alah menurut agama yang diyakini, minta pertolongan, kelancaran, dan keselamatan sama Sang Pencipta Alam, Allah S.W.T" insyaAllah semua berjalan sesuai rencana, terkendali".
“Ini dia Peta Lokasi dan Peraturan Pendakian”
Peraturan dibikin karena banyak yang ngelanggar, sebenernya kalau emang kita pendaki atau pendatang yang baik, penuhilah tata tertib tersebut untuk keselamatan bersama. Ada beberapa hal yang pernah gue baca, masukan dari kaka tingkat gue di Geologi, serta seiring pengalaman gua tentang pedoman menjadi pendaki atau pendatang yang baik, selain yang utama adalah “doa” yaitu :
1. Jangan sesekali mengeluh, karena hal itu bakal membuat semuanya kacau, semangat turun, pikiran gak karuan, psikis sangat mempengaruhi semuanya.
2. Mental dan keteguhan hati bisa ngalahin apapun, termasuk fisik yang udah gak memungkinkan. Mental adalah senjata terakhir, disaat fisik sudah pada ambang batasnya.
3. Jangan tinggalkan sampah dimanapun, karena alam tidak pernah menghasilkan sampah yang tak dapat diurai.
4. Jangan jadi orang yang parnoan, berdo’alah semuanya akan baik-baik saja.
5. Take Nothing but Picture, Leave nothing but footprint, Kill nothing but time.
6. Ini bukan rumah kita, jangan berbuat seenaknya seolah semuanya bisa dimiliki,
7. Jaga omongan kita sepanjang perjalanan, karena lidah kadang menjadi bumerang.
8. Jangan tinggalkan rekan pendakian, berangkat bersama, mendaki bersama, pulangpun bersama.
9. Kenali daerah sekitar, karena dengan itu kita bakal memahami arti perjalanan.
10. Pijakan kakimu dengan penuh keyakinan, jangan ada sedikitpun ragu.
11. Jangan sesekali ngerusak apapun dialam.
12. Berbuat baiklah, dan berdo’a sebelum melakukan segala sesuatunya, ini kunci dari segalanya.
Rumah Dupa …
Kenapa kok bisa ada dupa disini ?, kenapa ada pura diatas bukit sana?, kenapa ada patung selamat datang yang besarnya bukan main?. Entah interpretasi gue bener atau salah, yang jelas gue meyakini kalau daerah ini dulunya pernah terpengaruh agama hindu yang cukup kental. Mungkin waktu itu adalah zaman dimana Kerajaan Majapahit menguasai daerah ini.
Dulu gue sempet belajar Sejarah waktu SMA tentang kejayaan Islam dan runtuhnya Kerajaan Hindu di Indonesia, termasuk Kerajaan Majapahit yang hancur oleh Kerajaan Demak. Mungkin dahulu daerah ini adalah kekuasaan Kerajaan Majapahit, namun setelah Islam mulai menyebar, maka pengaruh Hindu mulai terkikis oleh ajaran Islam yang mungkin lebih dapat diterima oleh masyarakat sekitar saat itu.
Alam yang masih asri disuguhkan oleh pendakian kali ini, Lawu memang benar-benar hijau, walaupun seketika terlihat batang-batang yang terbakar yang kini telah menjadi abu. Entahlah itu disengaja atau tidak, yang jelas itu sangat mengganggu untuk ekosistem yang ada.
Sejenak meneguk setetes air dan menikmati biskuit yang dikeluarkan bapak Dani Satria, rasa lapar dan haus udah menghantui perut, tapi ini masih awal perjalanan. Waktu yang dihabiskan dari Pos awal ke pos 1 sekitar 1 jam, kemudian perjalanan ke pos 2 pun demikian, memakan waktu sekitar 1 jam. Sesekali kami bertemu dengan pendaki lain dan mencoba menanyakan berapa jauh perjalanan dari pos 2 ke pos 3. Mereka menjawab bahwa perjalanan dari pos ini terbilang lumayan jauh, sekitar 2 jam katanya.
Menuju Pos 3 …
Semangat ….
Sebelum pos 3 ada pos bayangan, dan kami beristirahat disana untuk makan dan minum karena hampir semuanya sudah kelelahan. Ada satu kutipan penting pada pendakian kali ini, "Niat dan Tujuan adalah 2 hal yang tak terlihat, namun terasa dan harus di pertanggungjawabkan” , kalau kata densus 88 sih "hati yang murni akan selalu murni, sedangkan hati yang busuk, sedalam apapun disembunyikan maka baunya akan kunjung tercium juga” , inilah kenapa kita sebagai pendaki harus punya niat dan tujuan yang jelas dan benar, kalau kalian bertanya kenapa ada kutipan seperti, akupun tak tau apa yang sudah aku tulis?.
Sesampainya di pos 3 kami berkumpul sejenak untuk beristirahat dan makan -makanan ringan yang ada didalam ransel kami. Sekitar setengah jam beristirahat, kami akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan. Kegelapan dan dinginnya malam sudah mulai terasa, artinya kami harus berhati-hati karena jalan sudah tak terlihat lagi, kecuali dengan bantuan senter dan cerahnya terang bulan.
Pada saat semuanya gelap, ketika mulut sulit untuk bernafas, jari-jari menjadi kaku saat dingin, janganlah sesekali kamu merasa takut akan apapun, satu hal yang pasti ‘Selama kita berdo’a dan ingat Sang Pencipta, maka tidak akan ada sedikitpun keraguan datang, yang ada hanyalah satu keyakinan kuat sebagai penerang pendakian’ . Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kita sampe di pos 4 dan mutusin buat camp disini.
Sehabis kami mendirikan tenda, akhirnya kami putuskan buat mulai memasak, mie goreng dan mie rebus menjadi pilihan menu makan malam ini. Setelah makan dan merasa kenyang, akhirnya semua tertidur, jujur waktu itu gua hampir gak bisa tidur karena udara sekitar 15 derajat celcius, yang bikin kita setenda pada pelukan. Kali ini gender bukan masalah, walaupun semuanya cowok, tapi apa daya, situasi dan kondisi mengharuskan semuanya terjadi.
Malem itu tiba-tiba gue terbangun, ternyata Jamal Ma’arif yang dari tadi batuk-batuk, dan dia bilang perutnya mual. Gue cuma diem dan bangunin Haqi disebelah gue buat ngurusin Jamal yang katanya mau muntah, Benar saja, gak lama kemudian suara yang udah gak asing lagi keluar, mie yang tadi terlihat enakpun kini keluar kembali.
Camp Fun …
Pos 4, Cemoro Kandang 10 Februari 2014 pukul 05.30 WIB
Keesokan harinya kami yang berencana bangun jam 4 shubuh, kini harus menerima kenyataan kalau sekarang udah jam setengah enam, yang artinya Sunrise udah mau showtime … semuanya diluar rencana. Tapi tenang, setelah cuci muka kami bergegas lari untuk segera menuju puncak yang ternyata gak jauh dari lokasi camp.
Awesome …
Nonton Konser Sunrise di punggung Gunung …
Walaupun gak dapet sunrise, indahnya panorama alam membalas semuanya. Sekitar 10 menit kami mendaki, akhirnya tiba juga tempat yang dituju … “Puncak Lawu 3265 Mdpl”.
#Lawupunyacerita Puncak Hargo Dumilah 3625 mdpl
Setelah puas menikmati keidahan alam yang luar biasa, kami memutuskan untuk turun, cuma sebelum itu kami belok dulu ke pos 5, yaitu Hargo Dalem. Tempat ini merupakan primadona dari Gunung Lawu, disaat semua orang kehabisan logistik, maka warung inilah kuncinya. Warung yang berada di ketinggian 3175 mdpl, merupakan rumah dari Mbo Yem dan anaknya. Rumah ini memang sudah ditinggali Mbo Yem sejak lama, dan entah sejak kapan warung ini didirikan. Yang jelas, Hargo Dalem menjadi tempat hangat bagi Pendaki Gunung Lawu tanpa harus kelaparan, kedinginan, bahkan mengalami dehidrasi, karena tempat ini menyiapkan segala macam kebutuhan perut, dari mulai nasi pecel, minuman anget, akua, hingga gorengan yang bakal mengisi perut kembali.
3 pandawa seatap
Hargo Dalem jadi alesan kenapa temen gue Jamal gak bawa logistik banyak-banyak, yaiyalah orang ada warung disini. Tau gini gue ikutan kayak dia, tapi gak usah deh, kali aja warungnya lagi tutup, atau logistik disini juga habis, ’kita harus mempersiapkan sesuatunya dengan mantap, walaupun sudah tau apa yang dibutuhkan ada didepan mata’ .
Faiz dan Ogut …
Beberapa saat gue bertanya sama Mbo Yem yang lagi ngegoreng telor, alhasil Mbo Yem menjawab dengan antusias. Pertanyaannya dimulai dari “Mbo, yang bawa logistik keatas itu siapa?”, hmmm, ternyata logistik dibawain sama orang dari bawah gunung ke rumah mbonya pada beberapa waktu. Bisa bayangin kan? berapa sering orang itu naik turun gunung buat nganterin logistik pesanan Mbo Yem. Fakta unik lainnya adalah Mbo Yem bakal turun gunung kalau misalkan emang ada acara penting, semacam kodangan dan hari raya besar.
Sebentar, satu hal yang hampir lupa. Kalau misalkan ini adalah warung sekaligus rumah, berarti ada tempat tidurnya juga?, pantes saja mbo yem agak bete pas akhir-akhir pertanyaan, ternyata tempat tidurnya beliau dii tidurin sama anak-anak, parah banget deh …
Warung Mbo yem
Akhirnya pecel pesanan datang ….
Ternyata emang pecel buatan mbo yem itu super duper enak, hmm, atau mungkin karena kita dalam kondisi kelaperan jadi semua ini terasa nikmat banget. Setelah makan ini itu, gue cuman bayar 22 rebu, harga yang cukup murah untuk nasi pecel+telor ceplok, teh manis, dan gorengan yang gak tau berapa banyak yang tadi gue makan. Kalau kalian bilang segitu mahal, coba bayangin, berapa energi yang harus dikeluarin buat ngangkut logistik naik turun gunung?. Akhirnya kami pamit dari warung tertinggi di Pulau Jawa, "cium tangan dan minta do’a supaya selamat sampai tujuan sama mbo yem".
Sekitar pukul11 akhirnya kami turun, dan ternyata emang selalu turun itu lebih cepet dari pada naik. Kalau di analogikan, “untuk mencapai kesuksesan itu perlu proses yang panjang, dan setelah kita capai kata sukses, kita harus bisa jaga kesuksesan itu dan jangan sampai goyah”. Akhirnya kita sampe posko Cemoro Kandang jam 15.30, dan pas balik kami ketemu sama Rentong yang baru aja mau naik.
Alhamdulillah semuanya sehat saat turun kali ini, yang kerasa cuma dengkul yang mulai mengeras dan sedikit sakit, tapi hal itu gak ada artinya dibandingkan dengan keindahan alam yang luar biasa yang disuguhkan oleh Gunung Lawu.
Sehabis makan, minum, beli emblem biar keren, akhirnya kami pulang diantar dengan mobil yang sama yang kemaren nganter. Akhirnya kami tiba juga di terminal. Dari Terminal Solo kami terpisah pulang ke singgasana masing-masing, Jamal balik ke Solo, bapak Dani ke Magelang, dan Gua serta arek-arek ke Semarang. Makasih buat perjalan Lawunya teman - teman, kalian luar biasa …
"Lawu sangatlah Luar Biasa, ini merupakan sebutir kecil keidahan ciptaanNya, Selalu Bersyukur, Berdo’a dan Berusaha, supaya selalu diberikan yang terbaik oleh Sang Pengatur Alam, Allah S.W.T."
See u next trip Everyone..
Bukit terjang menerjang …
Memandangi alam yang mempesona …
Berfoto ria penuh tawa …
Uler tangga …
Saling Merangkul …
Ini Indonesia …
Warung Mbo Yem …
Lets Pict …
Edelweis Gunung Lawu …
Salam Cinta dari 3265 Mdpl Mt Lawu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar