Selasa, 28 Mei 2013

The Real Mystic in Central Java "Dieng" . . .


“The Real Mystic in Central Java”

Mitigasi Gempa ‘Nyambi’ Geowisata Dieng”

Sebenernya liburan kali ini gak ada masuk di list perjalanan gua brur, sebenernya kita ke Dieng itu buat Penyuluhan dan Pendampingan mitigasi bencana gempa di Dieng tanggal 10-12 Mei itu hari jum’at-minggu. Kita ke Dieng itu buat penyuluhan, presentasi dan segala macemnya istilahnya menginformasikan ke warga Dieng tentang masalah kenapa di Dieng terjadi gempa yang agak gede pekan yang lalu. Soalnya menurut warga, gempa yang ada di Dieng kemarin itu kagak normal, makanya mereka panik. Cuma ada satu hal yang gua bikin salut brur sama warga disana, kalau gua bilang warga disana cerdas dalam pemanfaatan sumber daya alam, buktinya tanah subur di Dieng menjadikan sumber utama pertanian sebagai tempat buat bercocok tanam kentang, yang asal lu tau produk hasil tani kentang di Dieng itu merupakan produk penyuplai kentang terbesar di Indonesia, wah edan luar biasa. Terus selain itu Dieng juga merupakan kawasan vulkanik yang punya banyak kawah, dan kini energi yang ada dimanfaatkan sama PERTAMINA untuk sumber energi panas bumi “Geotermal” dimana sumber ini juga dimanfaatkan warga buat penerangan listrik di lingkungan sekitar, wahhhh manfaat banget ya. Nama geotermal Pertamina di Dieng itu dikenal dengan nama “Geodipa”, dimana energi panas bumi dimanfaatkan buat sumber listrik warga Indonesia, dan gak nanggung-nanggung, nyampe se JAWA-BALI. Ada satu hal yang bikin gua risih sebenernya, yaitu pemukiman warga yang mencengangkan, dengan desa yang dibuat terasering dengan kemiringan sekitar 70 derajat, dan harus lu bayangin di bawah rumah ada rumah, dibawah rumah ada rumah lagi, dan di bawah rumah ada jurang yang dalemnya 500 meter, edan gak tuh, dan ternyata pemukiman mereka itu tepat di punggungan Gunung yang diatasnya perkebunan warga dan pas terjadi gempa pekan lalu, timbul rekahan yang lumayan panjang … Gak kebayang kalau gempa lagi dan longsor, gimana pemukimannya “gua lagi cerita salah satu desa yang terkena dampak gempa pekan lalu, yaitu desa si Gemblong” …


image

Perkebunan diatas pemukiman warga

image

Ada rumah dibawah rumah -__-

image

Salah satu rekahan di bukit si gemblong


Yang jelas, “Bencana bukanlah keinginan siapapun, namun demikian sebagai manusia kita tidak bisa menolak akan tetapi bisa mencegah, dan permasalahan yang ada bukanlah hanya permasalahan dari warga di Dieng tapi menjadi permasalahan kita bersama untuk bagaimana baiknya menanggapi dan memberi jalan keluar dengan keadaan yang ada.”

Ok itu cerita singkat dari mitigasi kemarin, nahh sekarang kita balik lagi ke judul yang agak sedikit aneh, haha … “The Real Mystic in Central Java” … Kenapa kok gua bisa bilang tempat ini bener-bener mystic brur, emang ada apa disana kok nyampe gua bilang kayak gini. Sebelumnya gua mau ngenalin lokasi yang dimaksud, sebut saja Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif yang mempunyai jajaran pegunungan disekitarnya dan terdapat beberapa kawah yang ada disana. Secara Etimologi nama “Dieng” berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi : “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam, sebenernya ini gak terlalu mistis, malahan lu bisa belajar banyak dari lokasi ini, ya bisa dari segi mistisnya “sejarahnya”, dari kekayaan alamnya, dari kehidupan warga sekitar, dari keaktifan vulkanik di Dieng itu sendiri, yang jelas banyak yang bisa lu pelajarin disini.

image

Panorama yang ada di Kota Kayangan

Dari namanya yang mengartikan tempat para dewa dan dewi bersemanyam ini dibuktikan dari banyaknya candi-candi yang berada di Dataran tinggi Dieng. Candi-candi ini dipakai untuk tempat persemanyaman “bertapa” kepada dewa dan dewi, candi-candi yang berada di Dieng itu sendiri diantaranya Candi Arjuna, Candi Setiaki, candi Srikandi, Candi Semar, Candi Parikesit, Candi Gatot Kaca, Candi Putadewa, dan candi lainnya. Dimana kita bisa melihat candi-candi tersebut, salah satunya di kawasan wisata Dieng. Tiketnya gak mahal kok, kita cukup masok kocek Rp.20.000,00 dan langsung bisa muter-muter komplek candi, telaga warna, kawah sikidang, dan Dieng Plateau. Jalan-jalan kali ini gak direncanain, soalnya kita abis mitigasi langsung kepikiran buat belok dulu, yakaliii udah jauh-jauh ke Dieng gak nikmatin wisatanya dulu, muhehehehe. Kebetulah ogut ngajak 2 bruder, sebut saja Galang Virginiawan makhluk dari Tambun Selatan yang kepala sekolahnya itu temen deket ayah ogut “gak penting” dan bang Ryando senior kita yang dulu sempet jadi asisten paleontologi kita di mata kuliah praktikum geologi dasar.

image

Tiket Masuk Kawasan Wisata Dieng

Lokasi pertama yang kita kunjungin adalah komplek candi Arjuna … Wah mantep kali ya namanya, “Arjuna” (Trs Knp?)… Komplek candi Arjuna sebenernya terdiri dari beberapa candi dengan nama yang berbeda, dan lokasi pertama yang kita datengin adalah Candi Setiaki.

image

Candi Setiaki

Setelah dirasakan dan ditelaah Candi Setiaki merupakan candi tempat persemanyaman para Dewi, wangi harum mawar di dalam candi yang khas memberikan citra rasa tersendiri bagi pengunjung yang masuk kedalam candi tersebut. Yang jelas lu pasti tau kayak gimana dewi-dewi kayangan, yang cantiknya minta ampun dan putri-putri kerajaan yang bertapa di candi ini.

image

Macan-macan penjaga candi

image

Sejenis tempat air suci dulunya

image


image

Kayak kaki burung onta

image

image


Arca-arca di Candi Setiaki

image

Entah kuda laut atau apa

Setelah itu kita bergerak ke arah utara “kayak tau arah angin aja gua” kita bisa nemuin komplek candi Arjuna, nah depan candi Arjuna ada candi semar, nah di dua candi ini lebih banyak dipake persemanyaman para dewa. Bau khas yang dikeluarkan oleh 2 ruangan dalam candi ini sedikit berbeda dengan candi setiaki, walaupun tempat-tempat ini memang benar-benar lembab namun aroma yang keluar dari tiap candi berbeda, dan di candi ini aromanya lebih maskulin dibanding dengan candi yang sebelumnya.

image

Komplek Candi Arjuna

image


Candi Semar dengan pintu masuknya yang khas

image


Candi Arjuna

image


Candi Srikandiasli brur dalem ruangannya wangi cewek deh”

image

Tempat mainnya putri kerajaan brur

image

Candi Puntadewa


Itu dia candi-candi yang ada di komplek candi arjuna, sekarang kita lanjutkan lagi perjalan menuju candi dan tempat selanjutnya. Oke ada satu cerita seru, pas kita cabs dari komplek candi arjuna, kita ketemu saya seorang kakek bercetok mirip rayden lah kalau di Mortal Kombat, pokoknya lu harus percaya sama cerita gua kali ini, muehehehe. Sebut saja beliau dengan nama mbah Slamet, beliau adalah warga asli Dieng yang jelas sudah lama tinggal disini, pas ketemu dengan kakek ini kita sempet tuh nanya-nanya gitu tentang Dieng dan seputar candi yang ada, setelah bercakap-cakap akhirnya didapatkan kesimpulan bahwa candi-candi ini memang sudah ada jauh sebelum peradaban di Dieng ada, berarti emang dari dulu candi-candi ini sudah di buat lebih dulu dan berdiri tegak di kawasan Dieng …. begitu kata beliau, dan yang jelas beliau mengiyakan bahwa lokasi ini adalah tempat petapaan atau pemujaan dewa dewi oleh umat Hindu sebelum peradaban Islam mulai menjajakan kaki di kawasan Dieng. image


.Mbah Slamet tanyakan saja, maka banyak informasi yang dapat dipelajari”


Yang jelas “sepanjang perjalanan kita berjalan ria, siapapun kapanpun dimanapun orang yang kita temui adalah guru diperjalanan, kita mesti belajar kepada siapapun, tanpa melihat dia kecil, besar, tua, muda, atau pisikly seperti apa yang jelas kita ingin belajar.”


Kita lanjutkan perjalanan, akhirnya kita bertiga mutusin buat ke kawah Sikidang yang jaraknya ya lumayanlah kalau jalan kaki, hampir 3 km brur. Cuma ada satu candi nih yang ketinggalan, yaitu candi gatotkaca, lucu juga brur namanya,tapi keren banget dah ini candi.

image

Candi Gatot Kaca


Ok lanjut cerita, akhirnya setelah empul-empulan naik motor mio “blue” nyampe juga kita di kawah sikidang. Kawah ini kalau dibilang gak terlalu aktif, maksudnya walaupun kawah ini mengelurkan uap panas cuman kadar gas beracun di kawah ini gak begitu parah, cuman tetep aja bau belerang dari kawah yang bergejolak ini sangat menyengat, makanya disini banyak yang jualan masker buat nutupin hidung dan mulut dari gas yang menyengat.

image

Pemandangan Kawah Sikidang radius 500 Km

image

Batuan Alterasi hasil penguapan, uap airnya asli dah panasnya


Ada yang couple, ada yang jomblo … hahaha

Menuju pusat kawah dan di depan gua ada couple


Meninjau lingkungan sekitar

Jangan Lupa Pake Masker Brur



Air kawah yang bergejolak


Sehabis Geotrack ke kawah sikidang, kita mau bersantai sejenak nih melihat keindahan telaga di Dieng yang bener-bener dah itu telaga ajib beud brur, namanya Telaga warna, kalau dari kawah sikidang itu jaraknya ya lumayan lah kira-kira 2 km. Sesampainya di lokasi dan masuk ke kawasan wisata yang merupakan hutan lindung, beranjak berjalan kedepan dan akhirnya nampaklah telaga warna yang emang bener-bener berwarna.


Peta Wisata Wonosobo



Panorama telaga warna


Mantap Brur


Pemandangan dari 100 mdpl


Ok kita cabs muter-muter seputar telaga nih, dan damn kita nemuin goa gitu brur, ada namanya goa pengantin, adalagi goa apalagi ya … cuma yang jelas goa goa disini emang dipake buat tetap bertapa gitu brur, dan disini juga kita nemuin patung sejenis simbol “Perjanjian Palapa” yang terbuat dari perunggu. Nah dibelakang dari patung tersebut ada batuan segede gaban, lu bisa bayangin gak kok bisa batu segede itu kesingkap di wilayah sana, dari interpretasi gua sih batuan ini bukan ngegelinding atau ditaro disana, tapi emang batuan jatuhan yang kesingkap diwilayah ini.


Gajah Mada

Ada Patung Semar Brur yang jaga tempat petapaandi belakang


Setelah kita muter-muter akhirnya kita mutusin buat istirahat sejenak, salat dan santei-santei, nah ini yang unik lagi, kita ketemu sama mas aris, dia itu penjaga mushola di tempat wisata ini, cuma yang gua salutin dari dia, dia itu cerdas brur, gua dapet banyak informasi seputar Dieng dari dia, bahwa Dieng emang bener-bener punya masyarakat yang gak bergantung sama pemerintah, dimana semuanya suasembada, dari masyarakat untuk masyarakat. Faktanya adalah Produksi hasil tani kentang Dieng merupakan penghasil kentang terbesar di Indonesia, dan dari hasil bercocok tanam ini masyarakat sangat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan lebih dari itu, yang lebih penting adalah tingkat pengangguran di daerah Dieng berkurang karna banyak warga yang menjadi buruh tani. Yang cerdas lagi bahwa cocok tanam kentang itu berkala tiap tempatnya, sehingga misalkan di satu tempat panen, di tempat lain itu sedang menanam, sirkulasi yang bagus untuk kelancaran ekonomi yang ada. Lebih dari itu selain penghasil kentang terbesar, Diengpun merupakan penyumbang listrik terbesar se Pulau Jawa-Bali, sebenarnya selain listrik kata mas aris keberadaan Geodipa di Dieng itu sangat membantu sirkulasi uap dan gas yang berada di permukaan tanah, sehingga tekanan uap keatas dapat dikurangi karena adanya pengeluaran uap dari geotermal tersebut, dan ini sangat menguntungkan sekali (ucap mas aris).

Ngobrol itu nikmat


Dieng Plateau Theater


Sehabis kita istirahat, akhirnya kita pamit buat nonton bioskop, hahaha ceileh ada bioskop juga ye di gunung, bukan bioskop sih melainkan teater, ini dia Teater Plateu Dieng, dimana disini diputar seputar keindahan alam dieng, sumber daya alam, budaya, dan tempat wisata yang ada di Dieng. Akhirnya kita diperlihatkan tempat wisata yang ada di Dieng dan tempat wisata yang kita kunjungi termasuk rekomendasi, selain itu Dieng mempunyai seni budaya yang khas, dan Dieng pun mempunyai keunikan lain yaitu adanya anak-anak gimbal yang sebenernya pada saat mereka lahir biasa saja normal, namun setelah mengalami panas yang tak kunjung reda akhirnya rambut mereka berujung gimbal. Namun demikian rambut gimbal di Dieng dianggap sebagai pembawa sial, makanya ada yang naanya tradisi potong rambut gimbal, yang fungsinya buat ngebuang sial. Nah ini yang seru, anak berambut gimbal saat dipotong rambutnya boleh meminta apapun yang dia inginkan setelah memotong rambutnya … Kalau gua jadi itu bocah sih gua minta mobil sporty itu dah, hahaha … untung kebanyakan anak disini baik hati, paling minta sepeda atau PS dan segala jenis maenan lah brur. Setelah dilakukan ritual pembuangan sial, nantinya rambut mereka bakal normal kembali.

Ada satu dokumenter yang cukup riskan, yaitu bencana yang pernah terjadi di Dieng tahun 1979 dimana sekitar 149 orang meninggal dunia akibat menghirup gas beracun, jadi saat itu kawah sileri meledak karena gas yang terus menekan, nah dari hasil ledakannya memanjang hingga kawang timbang yang saat itu diinterpretasikan tidak sedang aktif, akhirnya saat kawah sileri meletus gas beracun CO2 menyebar mengikuti arah mata angin, dan saat terjadi letusan warga di kawasan dekat dengan kawah berhamburan alias panik, akhirnya mereka berlari namun pada jalur yang salah karena mereka malah mendekati arah gas beracun, maka dari itu dari tragedi ini sekitar 149 orang meninggal dunia.

Setelah kita menonton akhirnya kita mutusin buat balik dan langsung tembus arah tambih-temanggung-semarang, akhirnya waktu yang tadinya menunjukan pukul 14.30 kini sudah menunjukan pukul 18.00 WIB di Tembalang.

Inilah sepenggal cerita dari Dieng Negeri Kayangan, kota penghasil kentang terbaik, kota tempat penyuplai energi listrik terbaik, dan kota yang menjadikan warga masyarakatnya mandiri. Thanks seluruh warga Dieng, thanks Mbah Slamet, Mas Aris, and all of them makhluk tak kasat mata di Dieng, thanks for your information, and see u next trip … .







Tidak ada komentar:

Posting Komentar